Pernahkah anda berpikir, bagaimana pemerintah menarik pajak dari tukang becak, peminta-minta, atau pemulung sampah?
Pernahkah anda mengamati bagaimana terstrukturnya kreditur siluman dalam menarik pajak mereka yang berada at the bottom of the pyramid?
Pernahkah?
===
Inflasi sebagai Instrumen Penarik Pajak yang Canggih
Menurut saya, fiktif/mitos jika kita mengatakan bahwa Inflasi adalah kenaikan harga barang-barang. Inflasi perdefinisi (masih menurut saya) laju pertumbuhan uang dalam suatu sistem ekonomi. Atau dengan kata-kata yang lebih elegan, menurut imam Semar dalam sebuah jurnal ekonomi di tahun 2008, Inflasi adalah akibat yang timbul karena pemerintah tidak mampu menarik pajak dari rakyatnya saja. How Come?
Ya, berdasarkan apa yang saya pahami, Inflasi lebih merupakan sebuah “alat” penarik pajak yang canggih dan tidak membutuhkan infrastruktur njelimet. Anda bisa bayangkan dalam sebuah ilustrasi sederhana berikut.
Seorang tukang bakso yang bekerja dalam 1 hari pada tahun 95-an akan mendapatkan omzet sebesar Rp 500 x 30 mangkok = Rp 15.000,00. Nah, catat, uang tersebut kita asumsikan ditabung oleh tukang bakso yang rajin tersebut sebanyak Rp 10.000,00 dengan harapan sebagai biaya masa depan anaknya.
“..abang tukang bakso, mari dong kemari, saya mau beli
satu mangkok saja 500 perak yang banyak baksonya..”
Sekarang, di tahun ini, berapa harga semangkok bakso? Masa depan anak si tukang bakso tersebut perlahan pudar. Jika tukang bakso tersebut menabung selama 1 tahun dengan nominal tabungan Rp 10.000 per hari (2/3 dari keringatnya), maka dia hanya akan memperoleh Rp 3.650.000,00 dalam setahun. Atau jika dikonversi, uang tersebut adalah biaya hidup pas-pasan si tukang bakso tersebut dengan istri dan anaknya selama 1 bulan. Daya hidup 1 tahun dikompres menjadi hanya 1 bulan. Dengan penurunan nilai keringat seorang tukang bakso mencapai minus 900% dalam kurun waktu 10 tahun.

Jika kita komparasi dengan data inflasi kumulatif dunia pada grafik diatas, kita bisa bandingkan, bahwa inflasi dunia “hanya” pada kisaran 400%. Ya, mungkin di luar negeri tidak ada pungutan liar, parkir-parkir, preman, dan lain sebagainya yang ikut membuat harga di Indonesia lebih mahal ketimbang negara lain.
Apa tanggapan pemerintah? Pemerintah menghimbau kepada para pelaku pasar agar tidak melakukan penimbunan yang menyebabkan harga-harga naik. Pemerintah menuntut kepada mereka agar tidak memanipulasi harga-harga di pasar yang menyebabkan masyarakat tidak mampu membeli bahan pokok. Damn. Yang benar adalah, pemerintah menginginkan kambing hitam, yakni pelaku pasar, dalam rangka menutupi aibnya dalam penggelontoran uang-uang kertas yang mengambang. Sepakat? Smart. Harus selalu ada kambing hitam dalam setiap langkah-langkah cerdik. Isu-isu perekonomian rakyat menjadi populis dan bisa menggiring pemerintah untuk kembali berkuasa, tanpa masyarakat tahu, siapa dalang dibalik kenaikan harga-harga (baca: zero inflation (1)).
Inflasi ini sangat erat kaitannya dengan penggunaan mata uang kertas di dunia. Coba anda saksikan pada tabel tersebut diatas, amati, pada tahun berapa gradien inflasi kumulatif mengalami titik ekstrem. Saya bantu saja. Pada tahun 1970. Ada peristiwa apa di tahun tersebut? AS meninggalkan standar emasnya. Mengapa? Nanti akan saya ceritakan pada Zero Inflation 3. Jadi? Siapa yang mengatakan standar emas dan uang fiat tidak banyak berpengaruh terhadap perekonomian?
Melindungi Kekayaan Kita dari Inflasi
Memang banyak perdebatan dalam pemilihan mata uang sebagai sarana transaksi. Tapi saya lebih memilih untuk menggunakan emas, dengan pertimbangan maslahatnya jauh lebih banyak. Apa saja?
1. Emas bukan sarana lindung inflasi yang ekselen, tapi setidaknya emas mampu sedikit menahan laju inflasi, paling parah 2% per tahun. Paling baik 2% per 1400 tahun.
2. Emas merupakan sarana lindung krisis yang terbaik. Emas pernah mengalami “violence” dari penguasa pada tahun 1980-an dengan memonopoli kepemilikan emas dari rakyat menjadi ke pemerintah (US). Tapi tidak lama, harga tersebut kembali stabil karena memang nilai tradisional yang kental dari emas dan masih memiliki kepercayaan terhadap profile tersebut sampai hari ini. Dalam waktu yang sangat lama, pemerintah US berusaha “membunuh” emas sebagai sarana investasi dengan mengeluarkan instrumen-instrumen lain seperti bonds, i-bonds, portofolio, dll sehingga cukup banyak masyarakat yang percaya bahwa emas telah mati. Tapi siapa sangka, pada 4 tahun yang lalu, China mengeluarkan kebijakan kepemilikan emas sebagai sarana investasi dan menyimpan seluruh cadangan kekayaannya hingga hari ini dalam bentuk komoditi dengan emas sebagai leadernya. Larry Edelson, Editor of Real Wealth, menyatakan, “In its three short years of existence, it [the Shanghai Gold Exchange] has become the world’s largest trading exchange for gold bullion, with its volume of trading surging well ahead of London, New York, and Hong Kong.”
Sedikit pembahasan tentang China. Anda bisa membayangkan, harga emas yang dahulu tidak berkembang pada 4 tahun yang lalu hari ini menjadi melonjak luar biasa dalam hanya 4 tahun, menggambarkan betapa sebuah kekuatan investasi yang dikekang oleh komunitas/kekuatan pemerintah tidak akan mampu menampung demand kepercayaan dari masyarakat. Hal ini menjadi semakin sulit bagi pemerintah US untuk mampu mengatur harga emas dan membuatnya tetap dibawah.
Selain penggunaan emas sebagai sarana investasi yang diizinkan di China (Kebijakan ETF; bahwa pemerintah China mendirikan lembaga penukaran uang (Exchange Traded Fund) agar semua warga China bisa memiliki emas dalam pecahan harga yang murah) , saat ini perekonomian China menyimpan cadangan kekayaannya dalam banyak komoditi seperti Titanium, Oil, dll. Berbeda dengan US yang merampok perekonomian warganya dengan membeli emas dengan harga murah, kemudian mengeset harga tersebut dengan harga yang lebih tinggi yang secara otomatis meningkatkan kekayaan US dalam sekejap (ketika standar emas masih berlaku di US).
Pada akhirnya saya mau bertanya,
Apakah anda masih memilih menyandarkan mata uang pada sandaran mengambang? Sederhana saja, mengapa anda membeli emas? Anda khawatir dengan harga rupiah anda? Anda membutuhkan penjaminan?
Lebih sederhana lagi, jika kita mengetahui bahwa harga emas memiliki keteraturan dan sarana penyimpanan nilai yang tangguh, mengapa kita masih menggunakan uang kertas? Karena “percaya” itu tidak mudah dibentuk. Dan Emas sudah menciptakannya.
(To be continued: Zero Inflation 3 : sekilas Likuiditas dan Sejarah US meninggalkan mata uang emas)
Komentar