Untuk menjadi manusia yang bermanfaat buat orang lain, tidak cukup bagi kita hanya menggunakan akal yang sesungguhnya adalah kendaraan bagi jiwa kita. Saat jiwa sudah kehilangan kontrol atas akalnya, maka saat itulah kita tidak bisa menyebut diri kita sebagai manusia lagi. Karena apa? Karena esensi manusia sebagai makhluk sosial telah hilang seiring hilangnya empati kita terhadap mereka-mereka yang sudah tidak sempat lagi memohon pertolongan pada kita karena nestapa yang menimpanya.
Maka dimanakah engkau wahai saudaraku?? Dimana engkau saat yang lain menangis, merintih, dan tertatih menahan luka di dadanya, yang ternyata semakin perih karena ketidakpedulian kita terhadap mereka? Dimana engkau, saat mereka harus berjuang menyaksikan mentari esok pagi bersinar menerpa rambutnya? Dimana engkau saat jutaan rakyat kelaparan menanti sesuap nasi yang tak kunjung datang? Sudahkah kau bangun, wahai pemuda yang konon katanya adalah pembaharu bangsa? Inikah pemuda yang dulu didambakan menjadi pemimpin saat masih dalam timangan, namun akhirnya sekarang menjadi sampah setelah lama jiwanya mati karena keegoisannya melihat dunia?
Teman, gelar pemuda yang kita sandang sekarang tidak serta merta membuat kita harus berbangga diri lalu berfoya-foya menghabiskan waktu. Gelar pemuda ini adalah amanah dari Tuhan agar kita menjadi seseorang yang ikut memperbaiki dunia. Jangan sampai kita menyesal di masa nanti, teman. Saat di masa depan yang lain mengenang kepingan perjuangan mereka di masa lalu, kita hanya terpuruk tak berarti. Tak satupun hidup kita pernah menghasilkan sesuatu yang bisa dinikmati orang lain yang membutuhkan.
Bung Tomo, Syahrir, Soekarno, Moh. Hatta, Panglima diponegoro, Soedirman, mereka adalah contoh dari sekian banyak manusia yang mengawali perjuangan hidupnya dikala masih belia. Mungkin, mereka akan bersedih jika saat ini mereka hadir dalam Indonesia yang sekarang. Mereka mungkin menangis melihat banyak pemuda bodoh yang tak mau berpikir lagi tentang bangsanya. Mereka juga miris, melihat banyak produk pemuda terbaik dalam tataran ilmu, namun jiwanya kering akan kasih sayang terhadap sesama. Kita mungkin juga akan malu-malu saat diantara mereka bertanya tentang apa-apa yang sudah kita lakukan demi kemajuan bangsa ini. Tak ada satupun yang sudah kita perbuat.
Kita semua sadar memang, saat ini bukanlah zaman kolonialisme lagi, dimana ada penjajah datang dan menginjak-injak pertanian kita, kebun-kebun kopi dan teh, membangun markas-markas. Namun kita – entah sadar atau tidak – sedang terjajah secara besar-besaran, mulai penjajahan ekonomi, penjajahan budaya, penjajahan agama, sampai pengebirian nilai-nilai kepahlawanan dalam diri kita. Coba kau renungi lagi arti penjajahan tersebut, kawan.
Penjajahan yang tidak menginjak kita secara fisik, tapi menginjak nurani dalam diri. Memotong urat-urat kepedulian kita kepada sesama. Menciptakan hormon-hormon konsumtif dalam kepala kita yang melahirkan budaya hedonisme, hingga mereka yang terjajah lambat laun harus mengubah definisi Tuhan mereka dalam tataran jiwa. Dan kita sekarang disini, di persimpangan jalan, yang melihat itu semua. Mau tidak mau, jika kita tidak melawan, maka kita adalah korban selanjutnya. Apa mungkin kita sudah menjadi bagian dari kaum yang terjajah itu? Renungkan sendiri.
Maka, mari genggam erat tangan kawan disebelahmu, dan katakan bahwa kita harus bersatu untuk melawan penjajahan yang lebih kejam dari Belanda ini. Mari, katakan bahwa tanpa perjuangan bersama-sama, kita bukan apa-apa. Mari katakan bahwa kita adalah anak bangsa yang tidak diciptakan untuk menjadi benalu dalam negara, tapi kita adalah manusia seutuhnya, yang ber-Tuhan dan bercita-cita besar kepada bangsanya!!
Vivat HMM, vivat ITB, Untukmu Tuhan aku mengabdi, kan ku perbaiki Indonesiaku tercinta.

Hi, this is a comment.
To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.