“kawan-kawan, mari kita pekikkan pekik perjuangan!”
“bangkit, lawan, hancurkan tirani!”
suara itu membahana, seakan-akan ingin meloncat memecahkan awan-awan lantas berlari menembus langit. debu-debu pun ikut bertambah rancak menari-nari ekstase dalam kepulan asap kendaraan bermotor siang itu, tepat di depan gedung sate, Bandung.
Dalam beberapa mili detik aku sempat terdiam dengan tangan masih menggenggam microphone. Retoris. Formalitas. siapa tirani?
kuletakkan stik pengeras suara pabrikan Toa itu di dasar, dan aku meloncat turun dari mobil pick up biru oranye tersebut. pikiranku limbung.

Komentar