20.35
selalu saja. setiap aku menghadap layar komputer, yang tergambar di benakku adalah gambaran masa depan yang masih berupa sketsa. ya. seperti sketsa rumahku di tahun 1992 yang juga belum begitu detil. Kalau Bapakku bilang, “masih coret-coretan. Belum dibuat maketnya. Ntar beberapa hari lagi abang bisa liat bentuknya jadi 3 dimensi..”.
seorang saudara yang dipersaudarakan denganku juga pernah mengatakan sesuatu dalam sebuah perjalanan belanja di kota gudeg. “slow wae..”, katanya, sambil menikmati cicitan burung, semilir angin menggoyang dedaunan pohon palem di sore hari di kawasan Rotowijayan dan Pakuningratan.
“Hidup itu tidak usah terlalu dipikir berat. Jalani saja hukum-hukum kehidupan, maksimalkan apa yang bisa kita lakukan. Masih mahasiswa, ya belajar yang giat dan rajin biar dapet nilai bagus. Nanti hukum Allah akan berjalan sejajar dengan usaha kita.. slow wae..”, ungkapnya. Aku menghela nafas dan merotasikan pandanganku ke pemandangan di sekitar becak yang berjalan pelan. angin sore hari kota Jogja mengelus-elus wajahku dengan lembutnya. Hidup memang seperti ini, penuh misteri dan tantangan. Diam-diam aku salut pada saudaraku yang satu ini.
Andrea Hirata. Seorang pengarang novel favoritku, seperti selalu menyuntikkan energi pada adrenalinku melalui Arai dengan kata-katanya,
“Bermimpilah! Maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu..”
Ya. Jangan pernah berhenti bermimpi, kawan.. Bermimpilah tentang masa depan..

Komentar