Salam Cinta Untuk-Mu, Akhi..

25 07 2007

“Barakallahu lakum, wa baraka alaikum, wajama’a bainakuma fi khaiir..” doaku lirih dalam sebuah pernikahan saudara dalam dakwah di Klaten, Jawa Tengah.

Hari itu merupakan sebuah peristiwa paling bersejarah dalam kehidupan akh Rohmad (nama sebenarnya). Sebuah jalinan cinta telah disimpulkan dalam sebuah ikatan abadi. Tirai hijab telah disibakkan bagi Beliau atas sang istri. Keindahan menjalani sunnah-Nya seakan lebih indah dari hamparan bunga sakura di negeri Samurai. Ah, akh Rohmad, Teknik Sipil angkatan 2004.

Kami tiba di Klaten setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang dengan sebuah bus sewaan. Sekitar 13 jam perjalanan malam itu dengan awak bus kurang lebih 28 orang. Sembilan orang akhwat ditambah sisanya penumpang ikhwan. Lelah? Pasti! Tapi semua kelelahan fisik kami insya Allah tidak menjalar ke ikatan persaudaraan kami dalam dakwah. Satu hal yang pasti dan selalu kami yakini, bahwa kami bersaudara : saudara seiman.
Kota ini cukup asri. Hamparan sawah terlihat hanya pangkalnya. Luas nian. Burung-burung mencicit sambil berkejaran. Rumput-rumput bergoyang seperti sedang saling memijit punggung kawannya. Mobil-mobil tidak terlalu banyak seperti yang biasa kita saksikan di Bandung atau Jakarta. Penduduknya khas Jawa, kalau mengutip kata seorang teman “Jawa Banget”, katanya. Udaranya segar, meski cahaya matahari terus-terusan menghantam kulit dengan sombongnya. Namun panas mentari ini tidak terlalu merisaukan bagiku. Mengingat 17 tahun lamanya aku sudah sering berteman dengan panas dan debu di Jawa Timur.

Ukh Erni, begitu mereka memanggilnya, begitu pula kami. Meski tak sempat berdialog dalam kata, namun kebahagiaan yang terpancar dari matanya seolah sudah cukup mewakilkan sebuah syair dari phill Collins, you’ll be in my heart, yang ingin ia sampaikan pada sang suami. Uh, betapa dahsyatnya kekuatan cinta yang mempersatukan mereka. Rinangkai syair cinta menjalar menaik menembus kerumunan awan yang mengintip peristiwa paling dahsyat 2 putra-putri adam yang sedang menggelar sajadah sujudnya pada Rabb tersayang.

Prosesi walimahan berlangsung dengan khidmat. Aku merasa seperti sedang berada dalam lingkaran aroma wangi kembang 7 rupa dengan alunan-alunan gamelan keraton ngayogyakarta. Meski suasana tidak terlalu hening, namun keramaiannya tidak cukup gila untuk membuyarkan konsentrasiku menikmati walimahan ini. Dalam hati aku berpikir, betapa indahnya sastra Jawa. Desir kata-kata yang meluncur, meski aku tak sepenuhnya mengerti apa yang sedang dikatakan oleh MC, tapi huruf-huruf yang berpesta dalam kalimat itu meluncur menembus gendang telingaku dan membangkitkan sebuah sensasi ajaib. Mungkin karena diriku cukup lama dibesarkan di lingkungan Jawa yang tidak terlalu mengenal kromo inggil. Maklum, aku besar di kota Pahlawan tempat jendral Mallaby tewas dalam sebuah pertempuran besar.

Tiba saat kami memperoleh giliran untuk berfoto bersama kedua mempelai. Aku dan kawan-kawan beranjak dari tempat duduk dan segera berjalan menuju pelaminan yang tidak terlalu jauh dari tempat kami duduk. Bergantian kami berpose dalam jepretan blits tukang foto karena pelaminan tempat kami berfoto memang tidak terlalu besar untuk menampung ikhwan-ikhwan liar ini yang mau wajahnya ikut muncul dalam kenangan Rohmad dan keluarga di masa mendatang. Setelah kami para lelaki selesai berfoto, dilanjutkan dengan rombongan akhwat yang relatif cepat, karena jumlahnya yang tidak sebanyak peserta ikhwan.

“Saya sempat bingung ketika itu”, kata sang Ustad yang menyampaikan khotbah nikah setelah sesi foto.
“saya jawab saja, kalau pekerjaan tetap belum ada pak, tapi insya Allah saya tetap bekerja!” tambah sang ustad.

Kami tersenyum mendengarnya. Sang ustad sedang menceritakan pengalamannya saat menikah dulu. Sama dengan Rohmad, beliau menikah di semester 7. Pelik memang, ketika berhadapan dengan calon mertua, terkadang kita tidak mampu menjawab dengan tegas pertanyaan sepele seperti “Pekerjaannya dimana, nak?”, atau yang lebih menusuk lagi, ketika sang mertua tahu kita belum bekerja, ada kemungkinan Beliau bertanya,”Anak saya mau dikasih akan apa, sayang?”. Biasanya dilanjutkan dengan pernyataan,”Wah, mungkin sekarang belum saatnya, nak. Nanti saja kalau kalian sudah sama-sama siap”. Itu masih agak mendingan. Kadang kita juga harus siap dengan kata-kata seperti, “berani-beraninya kamu melamar anak saya!”. Beruntung jika sang mertua tidak mengatakan “Anda belum beruntung” atau “coba lagi”. Ada-ada saja. Saya hanya mengutip dari kawan-kawan saja ya. Secara, saya juga belum menikah.

Setelah selesai semua prosesi, kami bersalaman dengan keluarga mempelai dan berfoto sekali lagi untuk sekedar preventif saja, kalau-kalau nanti filmnya terbakar, atau kamera hilang dicuri pencuri-pencuri kencleng yang gila dan biasa beroperasi saat pernikahan. Mungkin saja. Tapi doakan saja tidak terjadi. Perpisahan dengan Rohmad dan keluarga akhirnya digenapkan dengan adanya setandan besar pisang yang diberikan kepada kami. Wah, tidak usah repot-repot, Mad! Pikirku. Bisa jadi biar panitia pernikahan tidak repot mencari monyet-monyet untuk menghabiskan pisang yang luar biasa banyak, diberikanlah itu kepada kami. Bisa-bisanya panitia ini. Hehehe. Just kidding, Bro!

Setelah berdoa, bus kami berbalik arah, memutar, lalu meluncur meninggalkan kota Klaten yang indah ini dengan meninggalkan jutaan kisah kasih persaudaraan kami dalam dakwah.

Allah memberikan berbagai macam cinta pada hati kita. Cinta kepada istri, cinta pada suami, cinta pada harta kekayaan, anak-anak, kebun-kebun, dan hal yang serupa. Cinta yang lebih nikmat lagi adalah cinta kepada saudara seiman, cinta yang lahir dalam dakwah. Dan cinta yang terdahsyat, adalah cinta kita kepada Allah dan Rasulullah. Semua hal yang kita cintai, akan menjadi berarti ketika disimpulkan dalam sebuah ikatan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Ya Allah, eratkanlah cinta kita bersama dalam sebuah ikatan pertalian cinta karena-Mu. Kekalkanlah kasih sayang kami, hidupkanlah kami dalam ma’rifah-Mu, dan matikanlah kami nanti dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Amiin.


Actions

Information

3 responses

27 07 2007
cg

army ternyata orangnya melankolis juga,,,,,, super melankolis,,,, dilihat dari gaya bahasanya bercerita sesuatu,,,,, punten kalo salah,,,,,

(dari orang yg tadinya ingin ikut ke klaten,,, tapi ga bisa gara2 ada jadwal kuliah SP yg ga bisa ditinggal,,, hiks,,,T_T )

12 08 2007
lia

ente keracunan bos, diagnosa sebab :
1. keracunan andrea hirata
2. keracunan habiburahman el shirazy

13 08 2007
fitrasani

wah2 keren…
jadi pertanyaannya, Army kapan nyusul?? hihihihihi

Leave a comment