Waktu sudah menunjukkan pukul 7 lebih 10. Lapangan bola utama di
sabuga sudah penuh dengan anak-anak kecil bermain dan berlatih sepak
bola. Mungkin dari sebuah SSB di kota Bandung yang rutin latihan
disana. Mungkin juga dari RW atau RT antah berantah yang juga cukup
sering aku lihat mengadakan olahraga buat anak-anaknya, seperti
kebiasaan kampungku di Jawa Timur. Entahlah, aku tak terlalu peduli.
Yang jelas saat ini aku sedang terduduk di timur lapangan futsal
tengah yang biasa digunakan ibu-ibu muda untuk senam aerobik hari Ahad
pagi. Kurasakan debu-debu beterbangan meliuk melambai tertiup angin
sepoi pagi. Tanganku masih dingin karena beberapa menit lalu diriku
melaju kencang dengan motor di jalan depan kebun binatang-BATAN-Sabuga
yang katanya salah satu daerah angker di sekitar ITB. Rambut kusutku
sedikit kurapikan dengan jemari tangan karena beberapa menit lalu
terhimpit helm motor.
Hari ini kami membuat rencana bermain futsal dengan kawan-kawan ADK
ikhwan. Sebuah rencana yang baru tergagas kilat dalam perjalanan
pulang dari walimah saudara di Klaten (baca post sebelumnya : Salam
cinta dari kami untukmu, akhi..). Ya, futsal. Sebuah olahraga yang
mungkin muncul gara-gara anak-anak kampung dulu sering bermain bola di
balai desa. Beberapa kali papan bertuliskan “Dilarang bermain bola
disini” retak dan akhirnya pecah karena tertabrak bola yang ditendang
oleh kami. Pak RT sampai harus setiap sore hari mengendap-endap di
belakang tembok yang memisahkan antara balai desa dan kantor kecamatan
untuk menangkap kami yang sudah merepotkan. Biasanya setelah peristiwa
papan pecah kami tidak bermain bola selama 1 minggu untuk menghindari
amukan pak RT. Mengenangnya membuat aroma rerumputan hijau yang habis
dipotong di sekitar kolam sebelah balai desa itu tercium kembali
menyelusup dalam alam pikiranku. Bisa jadi gara-gara itu akhirnya
merebaklah sebuah tradisi bermain bola di dalam ruangan. Ya, bisa
jadi. Apa sih yang tiak mungkin di dunia ini? Semua bisa jadi mungkin.
Karena semua mungkin, hari ini kami bermain futsal yang tidak dalam
ruangan. Mungkin lebih cocok dengan sebutan sepak bola mini dengan
aturan futsal. Nanti 10 tahun atau 15 tahun lagi bisa jadi ada
permainan bola lagi yang disebut neo-futsal. Gabungan antara sepak
bola dan futsal, seperti yang akan kami lakukan sebentar lagi.
Jarum detik dan menit di jam yang terpampang di muka lorong tepi
lapangan futsal tempat aku duduk sekarang nampak sedang berlarian
berkejaran. Mereka seakan sedang lari cepat tanpa pernah menengok ke
belakang. Egois betul. Waktu memang egois. Kadang kita sering tertikam
dari belakang oleh waktu. Entah karena ketiduran akhirnya lupa
mengerjakan PR, atau tidak Qiyamul lail karena asyik begadang nonton
bola atau main DOTA. Berhati-hatilah kawan, waktu tak sebaik yang kau
kira.
Lima menit sudah berlalu. Aku hendak pulang karena yang dinanti tak
kunjung datang. Aku sudah berdiri dan akan menuju tempat parkir motor,
hingga akhirnya berbalik lagi karena sebuah salam.
“Assalamualaikum, Akhi!!”
“Waalaikum salam.. Kumaha? Jadi teu maen futsalnya? Ane dah nunggu
lama nih. Ampe lumutan nungguin kalian.” Ujarku.
“Jadi, atuh. Ane disana tadi, sama yang lain lagi muter-muter nyariin
ikhwan yang lain. Tapi kayaknya emang segini doang.” Kata Aji.
“yaudah lah. Segini aja, ya!”
“Ayo!!”
Akhirnya permainan dimulai. Kami semua total bersembilan. Aji, Yunus,
kang Ida, Oki, Dani Badra, Adi, Adek, Ramdhan, dan terakhir diriku.
Tapi belakangan bertambah lagi 2 orang, Hadi dan Achiel.
Basah kuyup kami bermandi keringat yang terus-menerus mengucur deras
sekujur tubuh karena terbakar lelah. Tapi lelah itu seakan tidak
pernah kuncup di dalam hati saking senangnya pagi itu. Beberapa kali
adu heading dan adu badan tampaknya mewarnai damai hari. ADK hari ini
memang luar biasa. Tidak hanya rajin tilawah dan Qiyamul lail,
kesehatan fisik pun tak terlupakan. Adi contohnya. Beberapa kali
mencetak gol – sebenarnya hampir semua dia yang buat gol – dengan
angle-angle sekelas Elie Eboy atau Bambang Pamungkas berhasil
disarangkan ke jala lawan. Meski begitu, kami tetap saja masih
tertinggal jauh dengan lawan, karena mereka pakai 3 engine gol
sekaligus, Yunus, kang Ida, dan Dani Badra. Tak kalah menarik dari
Adi, Oki juga sempat membuat kiper mereka terhempas. Bukan karena
tertendang bola atau melakukan penyelamatan gemilang, namun karena
terpeleset dan mungkin salah jatuh karena tak pernah jadi kiper.
Maklum, kami bermain ala kadarnya dengan skill dan stamina yang jika
diukur menggunakan standar pemain bola, masih skala 1 dari 10. Yang
Penting Hepi!!
Akhirnya permainan usai. Skor akhir cukup fantastis, sampai aku tak
ingat berapa kedudukan akhir. Kalau tidak salah 17-15 atau 21-19. Yang
jelas selisih dua gol di detik terakhir sebelum jam menunjukkan pukul
9. Kami kalah di menit-menit terakhir, setelah blunder yang dilakukan
oleh Oki; bola masuk diantara kedua kakinya saat dia mau menangkap
bola mendatar dengan keepatan rendah. Wah! Ya sudahlah, wong
sebenarnya saya juga tidak terlalu lihai bermain bola. Sempat beberapa
kali saat terpaksa jadi kiper – ini aturan tak tertulis neo futsal
kami, seluruh pemain mesti jadi kiper, rolling seperti main voli – dan
akhirnya kebobolan juga. Beberapa kebodohan sendiri gara-gara kena
kaki yang ujung-ujungnya gol bunuh diri. Ya sudahlah, it’s just a
game, bro.
Ada nilai persahabatan yang menghimpun langkah-langkah kaki kami
kesini. Ada sebuah kesamaan cita perjuangan yang menuntun hati ini.
Allah telah meniupkan syair persaudaraan dalam benak kami. Akhi
fillah, kebersamaan adalah sebuah harta yang tidak ternilai harganya.
We are band of brothers, bro. Allah mempersatukan niat kita dalam
dakwah, yang akhirnya merajutkan tali ukhuwah dalam langkah gerak
kita. Biar langit meledak, bumi terbelah, hutan terbakar, dan lautan
meluap, persaudaraan ini harus tetap abadi. Biarkan kita nanti
akhirnya mereguk manisnya madu ukhuwah dalam cawan-cawan surga. Jangan
pernah engkau merasa sendiri, kawan. Ada diriku, ada mereka yang
senantiasa siap memikulkan bebanmu dalam perjalanan panjang dakwah
ini. Akan selalu ada kawanmu yang meneteskan air mata hatinya dalam
doa rabithah di sujud panjang sepertiga malam terakhirnya. Dan aku
yakin, ada dirimu yang siap meringankan langkah kaki ini dalam
perjalanan kita. “You’ll never walk alone”, kata Liverpool.

Komentar