dalam perjalanan belajar ilmu tentang teknik manufaktur (manufacturing engineering) di teknik mesin ITB, saya memperoleh beberapa hal yang cukup menarik untuk dipaparkan.
1. Teknik mesin berbeda dengan teknik manufaktur. di beberapa negara, manufaktur menjadi sebuah program studi tersendiri, dimana kita mempelajari lebih ke arah keterbuatan sebuah desain. Yang terjadi saat ini di ITB adalah penyimpangan dan disorientasi. kurangnya pengalaman dan pengetahuan engineer dalam negeri dalam hal keterbuatan produk berakibat kita tidak mampu menghasilkan sebuah produk yang nyata dan berkualitas. mungkin saya hanya melihat dalam sebuah partisi yang kecil. tapi mendengar dari paparan beberapa dosen yang mengeluhkan beberapa mata kuliah tentang keterbuatan suatu produk sampai dengan proses penentuan HPP (Harga Pokok Produksi) yang semakin tereduksi, menjadikan kami berpikir ulang, bisakah indonesia ini terbangun hanya dengan mata kuliah-mata kuliah mimpi? apakah ini ada sangkut pautnya dengan program pemerintah untuk membodohkan negeri kita?
2. Pola pikir di jurusan teknik bisa membuat kita lupa bagaimana berinteraksi dengan manusia. Mungkin terdengar lelucon. tapi, jika anda jurusan teknik, apalagi teknik mesin, perlahan akan merasakan bahwa berinteraksi dengan manusia ternyata lebih rumit daripada engine pesawat sekalipun. hal ini sudah saya buktikan sendiri, bagaimana rumitnya mengadapi konflik-konflik pribadi yang semakin berusaha dicari titik temunya semakin tak jelas kemana permasalahannya. kami biasa belajar optimisasi dan production system, ternyata tidak nyambung dengan psikologi dan bagaimana menghadapi perempuan yang sedang marah. mungkin itu sebabnya di teknik mesin ITS membuka seluas-luasnya kepada kaum hawa untuk mendaftar di teknik mesin, agar mahasiswanya tidak lupa bagaimana berinteraksi dengan manusia lain. kenapa perempuan?
3. Karena Perempuan masih memiliki 9 emosi dibandingkan dengan laki-laki yang hanya memiliki 1 emosi, sehingga pertahanan untuk menjadi manusia seutuhnya masih ada. Kalau di teknik, perempuan masih bisa mengkonversi 1 atau2 sisi emosinya dari 9 untuk beralih ke logika. tapi laki-laki, sudah sisi emosional cuma 1, dikonversi pula ke logka. habis.
4. khusus di jurusan teknik mesin, kami belajar tentang nasionalisme. Tapi kenyataannya, hanya sedikit yang memilikinya. Nasionalisme seperti apa? Coba tengok, tidak ada perusahaan manufaktur yang dipimpin oleh seorang sarjana teknik manufaktur a.k.a teknik mesin. tapi perusahaan lain seperti telekomunikasi, farmasi, industri seni, banyak yang sesuai dengan bidang keilmuannya. oleh karena itu, nasionalisme yang sering tertanam adalah,” Rebut kekuasaan cukong-cukong asing atas indonesia! Tolak segala bentuk penjajahan intelektual bangsa oleh asing!”
mungkin itu sebagian dulu yang bisa saya share, nanti kita berlanjut ke sesi yang akan datang!
waslm.

@nomer empat
contohnya apa mas? apa karena perusahaan manufaktur itu adalah perusahaan2 multinasional (asing)? atau karena dipimpin oleh orang indonesia yang bukan alumni teknik mesin?
menyoroti yang poin 3.jadi,menurut tulisan ini,jurusan mesin sangat cocok untuk wanita,tapi kenapa wanita menjadi minoritas di jurusan ini.tanya kenapa?
poin ke-2,
haha
belajar terus ya mas… psikologi itu asik. semester depan ambil antropologi aja. biar sisi emosional yang habis di poin ke-3 bisa numbuh lagi.
@ reditya
oya, sori logikanya kecepetan. 1. indonesia tdk punya industri manufaktur, kalo pabrik banyak. 2. kebanyakan industrinya dikuasai oleh orang asing (singapura, jepang, US, dll). 3. ketika dikuasai oleh org indonesia, eh ternyata malah dipegang trader, bukan engineer, bukan orang yang sesuai dengan bidang ilmunya.
@raditya
sori lama dit.. karena stigma logika yang tidak mempertemukan antara cewek dengan mesin. padahal bisa sangat dibutuhkan, wong mesin itu gunung ilmu.. hwehwe…*mode narsis: on*
@miftajah
iya nih. pengalaman pribadi di GG. busyet, ambil antropologi? walah… rencana malah mo ambil mata kuliah SR biar rada-rada nyeni.. hehehehe..
point 2
wah…nyindir nih.
tapi…mengahdapi manusia kan sama dengan menghadapi diri sendiri…kan kita sama…sama-sama manusia…
point 4
smangat mas! kita bisa kok membuat perusahaan manufaktur sendiri. ato kalo nggak, kita yang bikin firts stepnya, ntar generasi kita yang akan melanjutkannya.
njenengan ditakdirkan lolos UMPTN di teknik mesin kan? siapa tau emang takdir njenengan untuk memulainya.
salam…
saya saat ini membutuhkan bahan2 dan refrensi2 yang bahasa indonesia tentang DFM/DFA yaitu design for manufakturbility; design for assembly………
mohon bantuan. merdeka
hm.. ada buku karangan J. Dieter : Engineering Design, yang cukup bagus membahas detail DFA dan DFM. Nanti saya coba share disini mengenai garis besar DFA dan DFM. Terima kasih!
Teknik Manufaktur ada di Indonesia yaitu di Univ.Surabaya. Memang keilmuannya berbicara mengenai desain produk manufaktur dan alat bantunya, proses produksi dan manajemen produk. Mungkin ini bisa menjadi sebuah informasi.