beuh.. pilwalkot

26 07 2008

Spot 1

“assalamu’alaikum..”

“waalaikum salam..”

Terlihat sosok akhwat berjilbab lebar yang sedang tersenyum menatapku. Hm.. ngapain ni cewe..

“Mas, ini, saya mau menawarkan TRENDI, lho. Sudah kenal, mas?”

Ya elah. Belum tau ni cewe kayaknya. Kerjain ah..

“Mangga-mangga! Silakan Masuk dulu!”, sahutku.

Spot 2

Aduh, panas bener siang ini. Target belum nyampe lagi. Huh, gapapa. Lillahita’ala, baby..

Aku melangkahkan kaki perlahan menyusuri komplek perumahan tersebut. Entah kenapa, pikiranku tergerak untuk menuju sebuah rumah yang sepertinya bisa disapa penghuninya. Mari kita coba.

“Assalamu’alaikum..”

“waalaikum salam..”

sosok berwajah agak liar tampak terlihat di sela antara daun pintu dengan kusennya. Haduh! Salah orang nih! Ya Allah, kuatkan hamba-Mu.. Sudah, coba aja. Siapa tau berhasil. Allahu Akbar!

“Mas, ini, saya mau menawarkan TRENDI, lho. Sudah kenal, mas?”, Tanyaku. Kupaksakan untuk tersenyum, meski rasanya berat bagiku.

“Mangga-mangga! Silakan Masuk dulu!”, ujarnya.

Tubuhnya kurus, seperti korban narkoba. Lehernya berkalung. Tangannya? penuh gelang. Aku bergidik. Kujaga agar pintu rumah tetap terbuka, untuk berjaga-jaga kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak kuinginkan. Kulemparkan pandangan ke sekeliling ruang tamu itu. Aku telusuri pigura-pigura berlapis warna emas keperakan yang membungkus foto-foto tersebut. Satu demi satu. Foto keluarga, foto sendiri, foto dengan berbagai pose yang sepertinya kukenal akrab. Masya Allah!!

Spot 3

“Mas Syauqi ya?”

Sambil nyengir kuda, pemuda kurus seperti pengguna narkoba tadi mengangguk. Jdhang!!

“Kenapa, teh?”

“Jadi ini rumah Abu Syauqi?”, Tanyaku dalam pias rona muka seperti buah stawberry matang.

“Ya iya, lah.. Secara foto-fotonya Abu Syauqi semua disitu. Masa’ rumah teteh?”, jawabnya usil.

WakwAw!!!

“Ha… punten pisan, kang Syauqi.. Nuhun, Assalamualaikum, kang.. Afwan mengganggu siang-siang..”

Aku pacu langkahku meninggalkan rumah itu dengan segera. Senyumku tak mampu lagi bersembunyi dibalik malu. Ha… ada-ada aja, ya Rabb..

*kejadian tersebut bukan fiktif belaka. Fakta, meski sedikit dibumbui oleh kejahilan penulis agar sedikit segar dan menarik untuk dibaca..