antara ruhiyah dan rupiah

26 08 2008

kadang aku sering berpikir singkat setelah baca sirah Rasulullah, gimana ya cara sahabat-sahabat Rasul itu memanajemen waktu dan kehidupan, sedang hidup mereka diliputi ratusan agenda-agenda perjuangan Islam, mulai dari Syuro, mendakwahkan Islam kepada keluarga, masyarakat, membebaskan budak-budak, berlatih perang, merawat hewan ternak, dll. Jujur saja, aku sering bertanya dalam hati tentang hal tersebut. Pasti ada sesuatu yang telah mereka lakukan, sehingga semua hal tersebut dilakukan dengan baik.

Dan, ternyata setelah aku membaca sekian artikel kontemporer, jawabannya singkat: passive income. Gimana mau menjadi yang terdepan dalam mengajak orang lain kepada Islam, mentarbiyah ummat, wong kebutuhan untuk diri sendiri belum terjamin. Masih self employee kata pak Robert Kiyosaki. Ini ternyata kuncinya. Gimana mau punya idealisme setinggi langit, kalo ternyata ujung-ujungnya kita terbentur pertanyaan,”Mau dikasih makan apa anak dan istri kita kalo kita sibuk mengerjakan aktivitas sosial (non-profit)?”

Akhirnya kita harus punya skenario besar, menjadi aktivis dakwah keummatan. Bagaimana?

1. Penghasilan Pasif dan Aset Ekonomi Pribadi

Ini menjamin diri kita memiliki waktu yang luar biasa banyak dalam bekerja untuk umat. Banyak agenda dakwah ini, bung. Tidak hanya sekedar menjadi aleg atau menjadi aktivis partai saja. Belum ada yang mengisi wilayah muamalah. Belum ada yang menyentuh hukum Indonesia. Rakyat miskin dan termiskinkan, masalah mental budaya dan pragmatisme kehidupan, masih belum tergarap. Ini baru berbicara masalah parsial di Indonesia. Belum wilayah ‘Alamiy. Saudara kita di Perancis, Inggris, Palestina, Sudan, Chechnya, Rusia, dan banyak negara lainnya masih belum memiliki kondisi yang kondusif dalam berIslam. Sebagai kader dakwah, kita mesti ready 24 jam mengurus dan mengantisipasi hal tersebut, kalau mau jadi yang paling istiqomah dan paling luar biasa kontribusi keummatannya.

2. Kekuatan individu, yang terbangun sempurna dengan amal jama’i di keluarga.

Maksudnya, amal jama’i dalam keluarga itu penting, Melawan jahatnya Syaithan tidak bisa sendiri-sendiri, mesti berjamaah. Nah, jika kita sudah memiliki partner sejati dalam menghalau amunisi-amunisi syaithan tersebut, Insya Allah, kekuatan diri lambat laun akan meningkat, semakin imun terhadap godaan Syaithan. Ini masih tesis dari saya, silakan kalau mau dikoreksi. Siapa partnernya? Ya Istri dan anak-anak kita. Makanya, khusus untuk hal ini, kita harus benar-benar cermat dan teliti. Tapi kalau alat ukurnya baik, kecermatan dan ketelitian itu bisa dicapai dalam waktu singkat kok. Silakan tanya insinyur mesin yang belajar metrologi dan statistika. Alat ukur pembandingnya adalah Rasulullah, shahabat, dan shahabiyah. Dari mana referensinya? Al Qur’an dan Hadits dong.

3. Kekuatan tawakkal

Setelah komponen ruhiyah dan rupiah ini kita penuhi, amanah dari Allah untuk kita dalam mengemban perbaikan di muka bumi ini tinggal menunggu waktu saja. Dan semua itu kita tidak mencari, tapi menyiapkan. Kita pasrahkan saja kepada Allah, mau diletakkan dimana diri kita ini. Apa jadi aleg, jadi tokoh masyarakat, aktivis kepemudaan, penyumbang dana, dll semua Allah yang bimbing. Dan poin 1 serta 2 diatas juga merupakan sebuah i’dad bagi kita dalam menunggu amanah dari Allah.

CMIIW, silakan saja kalau kita mau diskusi.





Wow! Hidup semakin seru!!

21 08 2008

tak.. tik.. tak.. tik..

wow! Hidup semakin seru!

1. Berpenghasilan

Ini target pertamaku. Dan ini direncanakan untuk segera terealisasi akhir tahun 2008. Sekarang sudah bulan Agustus. Berarti maksimal 4 bulan lagi. Semoga setelah Bulan Ramadhan yang penuh berkah nanti segera terwujud.

2. Maratibul Amal tahap 2 (menikah)

Bismillah. Satu hal. Ini bukan sesuatu yang main-main, kawan. Kalau ingin meledakkan potensi, ini kuncinya. Semoga awal tahun 2009 bisa terealisasi. Semoga bukan HOAX. No comment dulu. Tunggu tanggal mainnya.

3. Lulus

Ini target terakhir rencana jangka pendekku. Bulan Maret 2009. Army Alghifari, ST.

Aku bergairah merasakan gelora adrenalin yang semakin menggelegak ketika mengantarkan raga ini meraih mimpi-mimpi. Jiwaku semakin membara mengikuti langkah kaki, dalam pengembaraan menuju ketentraman di alam moksa surgawi. Aku masih merindukan cadasnya batu karang kehidupan, terhimpit kegelapan, dan berjibaku dalam pedihnya perjalanan ini. Aku ingin hidup! Aku ingin merasakan sari pati kehidupan! (inspired by AH; I love ur books!)





La Vita Nuova

5 08 2008

Già eran quasi che atterzate l’ore/ Del tempo che onne stella n’è lucente, /Quando m’apparve Amor subitamente,/ Cui essenza membrar mi dà orrore.

Ya, hari ini.

Aku membuang pandanganku ke kuda-kuda besi yang tengah berlari di jalanan. Makhluk-makhluk itu berkeliaran ibarat alunan syair dante abad pertengahan yang seolah mengunyah banyak karya shakespeare. Liar.

Aku masih tercenung dengan secangkir espresso di hadapan. Sendiri di tengah kegelapan hati. Hitam pekat, seperti banyak isi kepala manusia abad gelombang ketiga menjelang empat ala alvin Toffler.

Masih muncul kengerian itu mencekik malamku, ketika segala sesuatu tampak tidak berakhir dan bermula sederhana. Aku kehilangan sepertiga jiwaku di sepertiga malam pertama terhitung dari akhir.
Aku gelisah dengan segala kegelisahan, mungkin serupa dengan kegelisahan Nabi Muhammad ketika mengekstrapolasi bayang-bayang umatnya di masa-masa mendatang.

Mungkin kegelisahan ini bisa segera diamputasi dari bagian primer tubuhku, kalau saja tembang sendu itu mulai jijik kepada diriku.

Kuhirup kembali espresso yang sedikit menggenangi piring kecil di atas cangkirnya. Kuhirup dalam-dalam, agar segera merasuk menembus jejaring sel-sel otakku yang mulai beku.

Waktu ketiga menjelang akhir/ketika setiap bintang di langit gemerlapan/ Cinta datang ke hadapanku begitu menakutkan/yang pada kenanganku melekat ngeri.





pemerintahan dada rosada terindikasi korupsi

4 08 2008

Setelah melihat siaran TV one kemarin pagi dan membaca berita okezone malam ini, saya jadi ingin menulis.

Jika kamu sudah memastikan diri untuk memilih incumbent dalam pemilu nanti, harap segera berpikir ulang dan pertimbangkan masak-masak, apa dampak yang akan kamu terima selama 5 tahun ke depan.

1. Skenario baik: Dada rosada bukan koruptor.

Jika memang adanya demikian, maka kamu bisa mengambil kesimpulan, Dada belum memiliki ilmu manajemen dan pemerintahan yang baik dan mesti harus banyak belajar pada yang lebih mampu. Lho, kenapa? Presrasi ketidakmampuan memanajemen dana APBD sebesar 2,1 T sudah sangat berlimpah. Diantaranya:

  • Kota metropolitan terkotor se-Indonesia 2 tahun berturut-turut, tahun 2006 dan 2007. Artinya Bapak kita ini tidak mampu mengelola lingkungan kota Bandung. Alhamdulillah, Bapak mau mengurus persib, tapi mbok ya lingkungan jangan dianak-tirikan seperti sekarang ini.
  • Indeks Pembangunan Manusia yang melorot tajam dari peringkat 14 menjadi peringkat 49. Waduh, Mangga saja pak dada kalau mau membangun Mall yang super besar, kondominium yang megah, tapi rakyat tidak butuh itu, pak. Bapak tidak mau mendengar jeritan masyarakat yang semakin bertambah miskin semenjak bapak jadi walikota.
  • Sekolah gratis tidak pernah ada. Jika pun Dada mengklaim ada sekolah gratis, itu hanyalah SPP sebesar Rp 10.000. Sedang biaya buku dll mencapai Rp 1,5 juta rupiah per semester.

Pak, kita butuh walikota yang cerdas dan mampu mengatasi banyak masalah dengan cepat. Kalau bapak tidak mampu, ya sebaiknya Bapak mesti berikan pada yang lain saja. Jangan meksa mau maju, nanti semakin dekat dengan neraka. Berikanlah sutu urusan kepada ahlinya, karena jika tidak, maka tunggulah kehancurannya.

2. Skenario 2: Dada rosada terbukti korupsi

Berarti sudah saatnya kita doakan bapak Dada yang terhormat agar segera bertaubat dan menemukan jalan yang benar. Padahal beberapa saat yang lalu saya melihat baligho dada bertebaran di jalan dengan pose berdoa dan mengklaim sebagai calon yang agamis. Sudahlah pak dada, jangan agama dijadikan kedok dan dijual kepada masyarakat kita yang masih menderita. Agama itu jalan hidup, keselarasan antara yang ada dalam hati, yang terucap, dan yang dilakukan. Kalau memang bapak korupsi, ya sudah. Kami memahami Bapak masih butuh memberi makan anak istri bahkan cucu. Tapi mbok ya direnungkan, ada jutaan masyarakat kota bandung yang masih belum bisa makan enak. Yang Rp 140-an Miliar itu mbok ya dikembalikan saja kepada masyarakat.

kembalikan pada hati nuranimu, kawan!!