Già eran quasi che atterzate l’ore/ Del tempo che onne stella n’è lucente, /Quando m’apparve Amor subitamente,/ Cui essenza membrar mi dà orrore.
Ya, hari ini.
Aku membuang pandanganku ke kuda-kuda besi yang tengah berlari di jalanan. Makhluk-makhluk itu berkeliaran ibarat alunan syair dante abad pertengahan yang seolah mengunyah banyak karya shakespeare. Liar.
Aku masih tercenung dengan secangkir espresso di hadapan. Sendiri di tengah kegelapan hati. Hitam pekat, seperti banyak isi kepala manusia abad gelombang ketiga menjelang empat ala alvin Toffler.
Masih muncul kengerian itu mencekik malamku, ketika segala sesuatu tampak tidak berakhir dan bermula sederhana. Aku kehilangan sepertiga jiwaku di sepertiga malam pertama terhitung dari akhir.
Aku gelisah dengan segala kegelisahan, mungkin serupa dengan kegelisahan Nabi Muhammad ketika mengekstrapolasi bayang-bayang umatnya di masa-masa mendatang.
Mungkin kegelisahan ini bisa segera diamputasi dari bagian primer tubuhku, kalau saja tembang sendu itu mulai jijik kepada diriku.
Kuhirup kembali espresso yang sedikit menggenangi piring kecil di atas cangkirnya. Kuhirup dalam-dalam, agar segera merasuk menembus jejaring sel-sel otakku yang mulai beku.
Waktu ketiga menjelang akhir/ketika setiap bintang di langit gemerlapan/ Cinta datang ke hadapanku begitu menakutkan/yang pada kenanganku melekat ngeri.

Komentar