menjelang detik-detik akhir ramadhan ini, jutaan warna cerah menyelisip di celah imanku. Kami (aku, bang febri, bang hafidz, bang anwar, dan mahendra) bersepakat untuk iktikaf di tepi dunia, Tanjungsari, Sumedang, Jawa Barat, tepatnya di pesantren alam Ust. Habib sang master Thifan, Al Kaafur.
Ritual iktikaf yang SANGAT berbeda, kawan. Kajian yang kami dapatkan berkisar fiqh, aqidah dan dakwah, dan yang ekstrim adalah FISIK. Bayangkan, ramadhan, dimana kebanyakan orang menghabiskan waktu diatas tempat tidur setelah sahur, kami harus berjibaku menembus bukit dan tebing di alam tanjungsari. Wow! I still don’t believe it. Tapi masih belum terlalu ekstrim jika dibandingkan dengan rencana di hari terakhir Ramadhan: ke puncak gunung yang puncaknya saja belum terlihat dari pesantren Al Kaafur tersebut.
Kami santri dadakan disana, dan memang cuma kami santrinya.
Yang paling mencerahkan adalah sang Master Guru. Subhanallah, aku speechless melihat perjuangan dan kesungguhan beliau dalam dakwah. Seorang sendiri membuka lahan dakwah di daerah Tanjungsari, dari santri/mutarobbi yang semula hanya 1 orang, sekarang sudah berkembang hingga ratusan orang; sampai-sampai terpaksa harus membangun masjid sendiri.
Bertarung melawan preman-preman yang biasa bawa golok dan pedang, melawan dukun dan khurafat yang merajalela, bukan lagi hal luar biasa yang hampir tiap hari dialami oleh beliau. Sampai beliau pernah berujar,”bisa saja kalau kamu mau ikut saya jaulah (berkunjung) ke desa-desa tetangga, tapi harus menyiapkan fisik, karena bukan tidak mungkin kita diserang orang-orang yang benci dengan dakwah ini..”
REAL kawan-kawan. Perjuangan Rasulullah dulu benar-benar dinapaktilasi oleh beliau. Dicela, diancam bunuh, diserang sesepuh-sesepuh/ajengan di daerah tersebut, difitnah aliran sesat ,ahmadiyah, dsb sudah dialami beliau. Dan sekarang? Mulai dari tukang bunuh, copet, pencuri ternak, ibu-ibu, bapak-bapak petani, anak-anak kecil dan remaja, sudah berduyun-duyun mendatangi pengajian ust. Habib itu. Satu yang khas adalah, ustad SANGAT tepat waktu. Walaupun baru hanya seorang yang datang, beliau langsung memulai pengajian dan taklimnya, sampai hingga hari ini, semua masyarakat terpaksa tahu, jika ingin mengikuti pengajian beliau, ketepatan waktu merupakan faktor utama agar tidak ketinggalan jalan cerita. Oya, satu lagi beliau ahli fiqh dan thifan, lulusan Fisika ITB angkatan 1986.
Mungkin ini sosok yang sangat langka di dunia modern. Sosok teladan yang selalu mencerahkan. Membuka mata hati kita yang sudah lama tertidur.
Sampai hari ini, sudahkah kita memiliki kekuatan diri yang sama? sudahkah kita punya kekuatan dan kebaikan, bukan kekuatan dan kejahatan seperti yang pernah disampaikan Umar bin Khattab ra dalam sebuah atsar: bahwa musibah besar terjadi di sebuah negeri apabila kekuatan di tangan orang-orang jahat dan orang-orang baiknya dalam kondisi lemah. Demikian puncak kehancuran yang terjadi pada zaman Fir’aun, di mana kekuatan-kekuatan menjelema berkolaborasi dalam satu kekuatan kejahatan. Kekuatan itu sendiri diwakili oleh tiga icon yaitu Qarun, simbol kekuatan harta. Hamman, simbol kekuatan intelektual. Serta Fir’aun sendiri yang merupakan simbol kekuatan politik dan militer yang sekaligus menghimpun itu semua.
Dunia menunggu sebuah kepribadian, dimana didalamnya berkumpul kebaikan dan kekuatan, kawan. Dan ini sudah berawal dalam sebuah butterfly effect di sudut kota kecil, Sumedang. Semoga kepribadian tangguh kita yang sudah sangat lama menghilang dari sudut hati ini, bisa segera kembali.

Amien..
Waaa. Subhanallah seru. Pastesan si army ngilang..
Kok engga ampe akhir my di sana nya?
Rabu malam kmrn udah makan malam ama sobol lg soalnya =)
Wow! Subhanallah..
Seru!
Btw, itu kak anwar ex-menteri pm kah?