“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah melainkan kepada-Nya saja. Kemudian, Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah:118)
“Ya Allahu rahman, aku khilaf..”
“sudahlah, tidak mengapa, rahmat Allah demikian luasnya. Masih ada kesempatanmu saat ini untuk bertaubat dan memohon ampunan-Nya.. Allah lebih mencintai hamba-Nya yang mendekat dengan jutaan salah dan permohonan cinta pada-Nya..”
“Tapi, untuk ikhwan seperti diriku? Sepertinya aku tak pantas berada di dalam kafilah dakwah ini.. Aku merasa sangat munafik dan berlumpur dosa. Rasa iri demikian membuncah dalam hatiku menyaksikan mereka yang berjuang dengan ikhlas dan penuh cinta pada perjuangan mereka..”
“sabar, bro.. Mohonkan ampun saja untuk dirimu dan dia. Tak mengapa. Toh, Allah Maha Melihat. Jujurkan saja pada Dia yang Maha Melihat. Tuturkan dalam kesederhanaan bahasa cintamu pada-Nya. Tak ada yang terlampau batas yang kau lakukan. Mungkin geliat persimpangan kehidupan saja yang sedikit kau abaikan. Mungkin memang sudah saatnya dirimu membutuhkan labuhan rindu pada-Nya.”
“Aku merasa ini sudah berulang dan terulang. Ya Allaah.. Nistanya diriku ini..”
“Asal jangan menjadi sebuah ritual dosa yang melipat rasa takutmu pada-Nya.. Tak mengapa.. Segera saja kau akhiri, mohonkan ampun dan khilaf. Sabar, akhi fillah. Allah selalu menguji hamba-Nya pada titik terlemah dalam dirinya.. Mudah-mudahan kau segera memetik pelajaran dari ini. Lagi.”
hening malam itu.. Simfoni kelamnya turut menambah angkuh malam yang mencengkram dada seorang lelaki muda usia di persimpangan kendali jiwa.
Allahu rabbi, laa hawla walaa quwwata illa billah..
Peringatan penulis: kisah ini adalah fiktif. Jika ada kesamaan setting, konten, dan pengalaman dengan pembaca saat ini, maka sudah saatnya kita introspeksi diri bersama..
Sodara tiri, ada apa ?
Are you okey ?
Hehehe,makanya my…
jangan yang nulis yang aneh2…sehingga kami2 [para pembaca] ini menjadi berpikir telah terjadi ’sesuatu’ yang sebenarnya ’sesuatu’ ini tidak terjadi secara riil
hmm….
hanya perlu sering jujur pada diri sendiri….
jujur pada diri sendiri…
terjawablah ntar kegelisahan-kegelisahan itu.