Berbicara tentang masa depan, saya jadi merasa mesti harus mengintrospeksi diri. Kenyataannya, kemampuan manusia dalam membangun mimpi tidak lebih kuat daripada dorongan ketika bertemu dengan realita yang sangat jamak dalam menggagalkan mimpi tersebut, yakni kebiasaan menunda. Dan mungkin, kemampuan untuk menunda tersebut, bisa jadi, merupakan sebuah bentuk perasaan takut dari lubuk hati yang terdalam kita terhadap 1 kata: kemiskinan. Miskin dalam segala hal: finansial, iman, persahabatan, dll.
Sadarkah kita, ketika kita menunda suatu pekerjaan, maka sebenarnya saat itu kita juga tengah mengalami perasaan berikut sebagai ekspresi dari ketakutan terhadap kemiskinan tadi:
- Overwaspada
- Kecemasan
- Ketidakpedulian (umumnya diekspresikan dalam bentuk tidak memiliki ambisi, malas secara mental dan fisik, menerima kompensasi apapun yang diberikan tanpa protes, menoleransi kemiskinan)
- Tidak/lambat mengambil keputusan (kebiasaan membiarkan orang lain berpikir untuk dirinya)
- Keraguan (umumnya diekspresikan dengan alibi/alasan yang disiapkan untuk menutup-nutupi kegagalan. Sering juga terekspresi dalam bentuk rasa iri atas keberhasilan seseorang atau mengkritik mereka)

Komentar