Berbicara tentang masa depan, saya jadi merasa mesti harus mengintrospeksi diri. Kenyataannya, kemampuan manusia dalam membangun mimpi tidak lebih kuat daripada dorongan ketika bertemu dengan realita yang sangat jamak dalam menggagalkan mimpi tersebut, yakni kebiasaan menunda. Dan mungkin, kemampuan untuk menunda tersebut, bisa jadi, merupakan sebuah bentuk perasaan takut dari lubuk hati yang terdalam kita terhadap 1 kata: kemiskinan. Miskin dalam segala hal: finansial, iman, persahabatan, dll.
Sadarkah kita, ketika kita menunda suatu pekerjaan, maka sebenarnya saat itu kita juga tengah mengalami perasaan berikut sebagai ekspresi dari ketakutan terhadap kemiskinan tadi:
- Overwaspada
- Kecemasan
- Ketidakpedulian (umumnya diekspresikan dalam bentuk tidak memiliki ambisi, malas secara mental dan fisik, menerima kompensasi apapun yang diberikan tanpa protes, menoleransi kemiskinan)
- Tidak/lambat mengambil keputusan (kebiasaan membiarkan orang lain berpikir untuk dirinya)
- Keraguan (umumnya diekspresikan dengan alibi/alasan yang disiapkan untuk menutup-nutupi kegagalan. Sering juga terekspresi dalam bentuk rasa iri atas keberhasilan seseorang atau mengkritik mereka)
Gejala-gejala tersebut dengan semena-mena merusak masa depan kita. Sialnya, gejala tersebut ternyata menyerang bagian dari diri kita yang paling krusial: pikiran! Coba pikirkan, kapan terakhir kali kita merasa cemas yang berlebihan, ragu-ragu, lambat membuat keputusan (sudahlah, let it flow, tidak usah dipikirkan dulu, sekarang belum saatnya, kita masih muda, dll).
Ketika hal-hal tersebut mulai merasuk dalam diri kita, yakini bahwa saat itu kita tengah takut kepada kemiskinan, meskipun kita sering berujar, “aku tidak takut pada kemiskinan, aku hanya ingin hidup sederhana dan biasa saja, aku tidak ingin kehilangan kebahagiaan.” Saat itu kita tengah membandingkan 2 hal yang tidak apple to apple: kemiskinan dan kebahagiaan. C’mon, jujurlah pada diri sendiri. Honestly, kita cemas luar biasa ketika sedang berbicara seperti itu. Kita takut bermimpi. Kita overwaspada. Kita takut miskin! Miskin kebahagiaan dan kasih sayang, dan kita tidak ingin berlari ke tempat yang lebih baik, karena takut akan bertindak, dan takut pada bayangan kegagalan di masa depan.
“Kejujuran adalah hal termudah untuk dilakukan”, kata pak Mario Teguh. “Tapi kejujuran pada diri sendiri, belum tentu..”
Sadarilah, Allah senantiasa menyuntikkan semangat dalam kehidupan manusia, “Jangan Takut! Jangan bersedih!”
Berikut sebuah renungan dari Mr. Napoleon, “Kesuksesan tak memerlukan penjelasan, dan kegagalan tidak memperbolehkan alasan!”

setuju…kemiskinan memang musuh nyata tuh!!!
harus bergerak…ga boleh diam…ga boleh acuh tak acuh..
mulai dari diri sendiri dulu kali yak??
piss ah!!
ada motivasi, ada instropeksi, ada nasihat, ada peringatan..
tulisan yg sarat akan pelajaran..
syukron mas..!!!
baiklah army, berhasil kau membuat aku kesepet.
Yok ah semangat lagi!
Tapi ya My, anti-kemapanan tidak sama dengan anti-kemiskinan tau.
[...] #sesi 1 setelah baca postingan army di Where will you go? (4th), kemudian ym sama mbak upe yang merekomendasikan lagu Lentera Jiwa-nya Nugie, trus tadi siang juga [...]
aku ngga takut.
tapi,
aku bohong.
sebenernya aku takut.
wajar. manusiawi.
menghitung resiko.
tapi,
setelah dipikir,
setiap pilihan punya resiko
tinggal mau pilih resiko yang kayak mana
akhirnya,
“bersihkan hati, lalu mintalah fatwa pada hatimu”
yep!
follow your passion.
ikuti lentera jiwamu.
thx 4 postingan ini…
apapun godaannya, aku masih bertahan di jalan ini …
Baiklah.
Yuk, mari konkret !!
Tulisan2nya, Army banget dah..salut!!!