Pelajaran dari Sang Guru (1st)

22 11 2008

businessmanKali ini, saya akan memuat sekuel kedua dari serial learning in life university. Beberapa seri berikut akan mencerahkan kita tentang bagaimana kita belajar berjalan dalam gelap. Silakan dibaca. No Skimming.

Pelajaran berharga itu diawali dengan pertemuan saya dengan sang guru di sebuah hotel terkenal di Bandung. Dan mungkin inilah awal perubahan besar yang akan terjadi bagi diriku.

“Jadi, kamu masih mau bisnis?”, tanya beliau dalam sela-sela istirahat sebuah diskusi

“iya, pak. Dengan segenap jiwa dan raga saya..”

“hmm.. kenapa kamu mau bisnis?”

“saya ingin kaya, pak”

“terus?”

“ya, pokoknya kaya aja.. Seperti Bapak”

“berapa nominal yang kamu ingin capai?”

“saya ingin punya aset IDR 7T, dan Passive Income IDR 2M/bulan”

“bagus. Hutangnya ada?”

“Ga ada, pak. Saya ga mau punya hutang..”

“Hm.. Jangan. Hutang aja, nggak apa-apa. Masak pengusaha ga punya hutang. Yasudah, nanti saya jelaskan dalam sesi yang lain tentang seluk beluk hutang”

“Saya cuma ingin menjelaskan satu hal dulu kepada kamu”, sambungnya sambil mengambil secangkir hot espresso dan kemudian perlahan diminumnya sedikit demi sedikit.

“satu hal yang akan menjadi darah para businessman. Passion. Hasrat. Seberapa besar sukses kamu dalam bisnis, sangat ditentukan seberapa besar hasrat kamu untuk menjadi besar”

“Coba, berapa banyak orang yang bersuara bagus di negeri ini?”, sang guru bertanya padaku.

“Banyak, guru. Banyak teman-teman saya yang bersuara sangat indah, terutama mereka yang berada di grup paduan suara. Tapi apa hubungannya dengan bisnis?”

“Banyak kan? Sangat banyak. Bahkan dari anggota keluarga inti kita saja mungkin ada yang pandai bernyanyi. Tapi, berapa banyak dari mereka yang menjadi penyanyi?”

“iya, sangat sedikit. Malah ada orang-orang yang kualitas suara mereka biasa-biasa saja, ada yang menjadi penyanyi/grup band sangat terkenal..”

“Menjadi penyanyi ternyata tidak harus berbakat, kan?”

“iya..”

“mungkin yang paling tepat menggambarkan korelasi kesuksesan seorang penyanyi adalah, siapa yang bolak-balik dapur rekaman, pernah ditolak, kemudian membuat lagu baru lagi, mencoba, dll, adalah mereka sukses. Make sense?”

“iya, guru. Betul juga..”

“mengapa mereka mau keluar masuk dapur rekaman?”

“ya karena mereka punya mimpi dan gigih untukmewujudkannya..”

“butuh bakat menyanyi?”

“ya, butuh. Tapi sudah tidak lagi menjadi sangat signifikan, guru..”

“betul..”

“dan seperti itulah bisnis. Persis

“Tapi ada satu blackhole tentang kegigihan yang harus kamu camkan..”

“Apa itu, pak?”

“Nanti. Saat ini tugasmu adalah menemukan hasratmu yang besar, dulu. Seperti hasrat Thomas Alfa Edison terhadap bola lampunya, seperti Henry Ford terhadap mobil Ford-nya. Setelah itu, kamu akan kuberitahu, gigih yang seperti apa yang akan membuat sebuah lompatan sejarah”

“ok, pak”

“ok, jangan lupa satu kata, passion. Hasrat.”


Actions

Information

4 responses

22 11 2008
Hadi Teguh Yudistira

Hmm…dialog menarik… mau jadi pengusaha nih ya my?
Bagus…mimpi yang besar…..

22 11 2008
miftahul hidayah

Ah, Army.
Penasaran lanjutannya!
Ayo tulis lagi buruan!

2 12 2008
icalmahdi

Hasrat memang penting..
Intinya naluri jiwa.
Sip..!!

11 12 2008
yandhie

Hmmm…Hmmm..
Saya suka dengan semangat dalam tulisan ini.

Yang terpenting adalah passion, itulah lentera jiwa yang sesunguhnya.
Semangat ya dalam mengejarnya…
Keep fighting keep pursuing..

Leave a comment