Sekembalinya dari perjumpaan itu, aku diam-diam merenungkan dalam hati. Ya, Passion. Hasrat. Kemauan. Aku sangat menyadari, bahwa Jiwa ini akan sangat luas ketika hasrat itu mengangkasa.
—
Alhamdulillah, beberapa hari setelah pertemuan itu, aku diberikan kesempatan lagi untuk bertemu sang guru, di sebuah ballroom hotel lain di pusat kota.
“sudah merenungnya?”
“sudah, guru.. Saya sadar, ada ruang pondasi pikiran yang menanti untuk kita isi dengan hasrat dan kemauan”
“bagus. Nah, siap menerima pelajaran berikutnya?”
“siap, guru!”
“tapi sebelumnya, kamu sudah bisnis apa saja setelah memiliki passion??”
“belum ada, guru. saya mau belajar dulu sekarang tentang bisnis. Baru setelah lulus, saya akan merintis bisnis pertama saya”
“kalau gitu nanti saja pelajaran selanjutnya. Setelah bisnismu jalan”, kata guru sambil mengerjakan sesuatu di laptop.
“Lho, kenapa guru? saya siap sekarang untuk menerima pelajaran. Jangan nanti..”
“nak, semakin kamu tahu tentang bisnis, semakin kamu takut untuk bisnis. Coba lihat, sangat banyak lulusan MBA, S2 Financial and Accounting, doktoral bisnis, tapi tidak segera memulai bisnis. Mereka takut. Ngeri liat angka-angka yang bertaburan diatas kertas financial plan”
Aku tercenung.
“iya, kan? Nah, sekarang kamu pulang, pikirkan lagi tentang sebuah usaha yang akan kamu jalani. Saya ada tips untuk memulai bisnis. Satu, BODOL. Berani Optimis dengan Duit Orang Lain. Kalau kamu ngga punya modal untuk bisnis, minjem. Siapa aja. Bank, ortu, teman, sahabat, tetangga depan rumah, ibu kos, rekan bisnis, siapapun lah, yang bisa ngasih modal ke kamu”
“Bapak mau ngasih saya modal?”
“hahaha.. cerdas. Nah, gitu. Jadi pengusaha mesti otak kanan. Saya? Bisa saja. Nanti kita liat, kamu punya bisnis apa yang menarik. Tapi sebelum itu, ada prinsip satu lagi. BOBOL. Berani Optimis dengan Bisnis Orang Lain. Kalo kamu ga punya ide bisnis, gabung, kembangkan bisnis orang lain. Saya dulu membesarkan sekolah musik purwacaraka, kamu kira pakai modal? Ga. Nol rupiah. Cuma modal kartu nama sama MoU saja”
“oo.. gitu, pak, ya”
“Ya. Kekuatan hasrat dan mimpi akan mendrive orang-orang dan segala sesuatu yang sejalan dengan hasrat kita untuk mendekat dan bergabung dengan mimpi kita. Saya waktu membesarkan franchise sekolah musik tersebut, gila, kagak ada pengalaman sama sekali. Jadi ceritanya begini. Saya, Pak Purdi, dan Pak Purwa bertemu dalam sebuah meeting yang diprakarasai oleh Pak Purdi.
“Pak Purwa, ini saya kenalin, teman saya, salah seorang ahli franchise di Indonesia”
gila!! franchise apa juga gua kagak tau.. Gawat Pak Purdi ni. Seenak-enaknya aja ngenalin orang..
“Oh, salam kenal, Pak”
“Jadi Pak Purwa, beliau ini nanti bisa membantu bisnis sekolah musik Bapak untuk berkembang menjadi sebuah Franchise pendidikan”
“Baik. Nanti kita akan bicara lebih lanjut bisa, pak?”
“ow, bisa! Ini kartu nama saya”
“Wah keren Bapak. Presiden Direktur ya..”
“Wah, Bapak bisa aja.. Terima kasih, pak. Oya, saya juga sekarang telah menyelesaikan pendidikan S2 Accounting di UI, Pak. Cukup sering bekerja sama dengan perusahaan asing dalam mengelola saham dan perbankan”
“Wah.. ya.. ya.. hebat bapak. Nanti kita ketemu seminggu lagi pak, ya. Saya akan jelaskan lebih jauh tentang ekspansi bisnis yang ingin saya lakukan terhadap purwacaraka”
mati gua..
“Pulang ke rumah, saya berpikir dan merenung. Dari mana saya bisa tahu tentang franchise. Kalut, galau. 2 hari sudah berjalan. Dan belum ada progres. Gawat. Tapi subhanallah, hari ke-3 setelah pertemuan itu ada publikasi di koran besar-besaran tentang seminar franchise yang menghadirkan pakar-pakar franchise terkemuka di seluruh dunia di jakarta! Ini mungkin jalan saya.”
“saya ikut dengan semangat. Acara jam 7 pagi, saya sudah hadir jam 6. Pokoknya saya sangat serius. Lha, gimana ngga? Besok sudah mau ketemu klien langsung. Langsung diterapkan ini ilmunya. Ga boleh gagal. Bisa malu-maluin ntar”
“Wah, besoknya. Saya dengan bangga dan penuh percaya diri bertemu dengan Pak Purwa.
“Pak Purwa, bagaimana jadinya? Iya, Pak. Franchise di luar negeri itu seperti..bla..bla..bla…”
“Pokoknya saya ngecap no.1 lah. Ngomongnya jangan franchise dalam negeri, masak ahli franchise ngomong di dalam negeri. Ngomongnya luar negeri lah. Pasti lancar, wong materinya baru kemarin.. hahaha..!”
“terus, pak?”, kejarku takjub.
“Ya, setelah itu kisah sukses yang mengalir. Sekarang purwacaraka sudah menjadi sekolah musik ternama di Indonesia, bahkan no.1, setelah menumbangkan sekolah musik Yamaha”
“Wah, seru, pak..!”
“Ya itu tadi yang harus kamu camkan ya. Kita harus optimis terhadap hasrat kita. Ini belum pelajaran kedua ya.. masih suntikan semangat saja buat kamu, biar mulai segera membuat usaha. Pokoknya mesti action. jangan kebanyakan mikir. Bikin dulu aja kartu nama. Bikin PT. Urusan tentang bisnisnya apa, pikir belakangan. kepepet aja dulu, pasti nanti ketemu solusinya”
“siap, pak! Terima kasih pelajaran hari ini, pak.. Saya mohon diri dulu. Maaf merepotkan Bapak, Nanti mungkin pekan depan kita bisa ketemu lagi, Pak.”
“Oke. Ketemu saya lagi sudah harus ada kabar baik. Bisnis sudah berjalan. Ga ada modal? BODOL:. Ga ada ide? BOBOL.”
“sip! Assalamualaikum, pak..”
yo, mari. Waalaikumsalam”

Dahsyat!
suangarr!!
makasih tipsnyah
mangstaph,,, ini serius kejadian nyata ni bang army?
saya menunggu selanjutnya y,,
susah banget mau melangkahkan step pertama…gimana dong!!!
Take Action..!!!
Anyway.. This posting is so incridible..!!!
Syukron mas..!!!
Cool!
Mas Army ajarin bisnis dong… Dari dulu saya mau muluai bisnis, tapi tidak tahu mesti mulai dari mana ^^
Wow.. menginspirasi…
alhamdulillah nemu juga blog-nya mas.
mas, masih inget saya nggak..?
sip oke banget! ilmune tak colong yo…
piye? dah jalan blm bisnisnya, atau lanjutan tulisannya dulu ga pa pa biar tambah semangat, masih ingat kan pelajaran “bisnis itu seperti masuk kamar mandi”. jadi ya masuk aja dulu kalau kurang apa2 kan tinggal teriak …gampang to.
wakakak.. ancene bonek, bondo nekat tenan…