Zero Inflation (3) : Likuiditas dan Inflasi

6 08 2009
Apakah anda tahu, bahwa fenomena inflasi telah diciptakan sejak kekaisaran Romawi melakukan pengenceran kadar emas yang terkandung di dalam uang dinarius nya dari 90% menjadi hampir 0% selama 250 tahun. Kalau anda mau sedikit membuka sejarah eropa, anda akan menemukan segmen cerita tentang John Law dan Duke Philippe d’Orléans berserta Banque Royale (Royal Bank) di tahun 1716 sampai 1720. Disana disebutkan bahwa orang Prancis alergi terhadap kata bank karena inflasi yang diciptakan Banque Royale tersebut. Yang kita jumpai sekarang ini adalah Credit Lyonese atau Credit Suisse. Atau kalau anda buka situsnya Bank Indonesia, dan membaca sejarah Bank Indonesia, anda akan tahu bahwa keuangan republik ini didirikan di atas inflasi untuk membiayai perjuangan kemerdekaan dulu. Atau kalau mau baca majalah atau koran luar negeri baru-baru ini tentang Zimbabwe, inflasinya 1700%. Luar biasa. [1]

Semua kisah diatas memiliki benang merah yang sama, bahwa terjadi usaha untuk mengurangi nilai intrinsik dari mata uang beredar, entah dengan berupa mengurangi kadar emas (ya, kan? Berkurang jumlah uang dalam nilai intrinsiknya) atau dengan menggelontorkan uang secara edan-edanan (Perancis saat dulu dan Zimbabwe saat ini). What the hell of it?

Mitos yang masih dipercaya oleh masyarakat ekonomi saat ini – terutama ekonom klasik – adalah dengan penggelontoran uang alias likuiditas, akan menaikkan perekonomian suatu negara (Telaah kembali easy money policy, Kebijakan Uang Longgar). Penggelontoran uang – yang menjadi monopoli suatu negara – akan mendorong masyarakat ekonomi yang sedang lesu agar kembali bergairah dalam sektor produksi, artinya transaksi akan berlipat seiring dengan berlipatnya jumlah uang. Benarkah?

Grafik 1. Peningkatan Jumlah M2 di Indonesia dari 1994-2008
Dalam dunia moneter, khususnya Money Supply (Persediaan uang/JUB/Jumlah Uang Beredar), kita mengenal terdapat istilah M0, M1, M2, dan M3. Agar kita memahami makna dari grafik diatas, mari sedikit kita review tentang makna M0-M4 tersebut.
  • M0, yaitu definisi suplai uang secara sempit. M0 hanya terdiri dari uang kartal, yaitu uang kertas dan logam yang kita pegang sehari-hari.
  • M1, yaitu M0 ditambah dengan demand deposit (dd). Dd adalah tabungan yang kita miliki di bank, yang dapat dicairkan sewaktu-waktu apabila dibutuhkan. M1 ini merupakan perhitungan jumlah uang yang beredar yang sangat likuid.
  • M2, yaitu M1 ditambah dengan time deposit (td). Td adalah tabungan, deposito, dan sejenisnya, yang memiliki waktu jatuh tempo atau tidak dapat dicairkan sewaktu-waktu dibutuhkan.
  • M3, yaitu M2 ditambah dengan deposito jangka panjang, Ini meliputi dana-dana institusional yang ada dipasar uang.

Ada apa gerangan kaitannya dengan likuiditas? Apa artinya kenaikan M2 diatas?

Baik jika memang analisis matematis tentang penggelontoran uang akan meningkatkan perekonomian (menambah transaksi). Sejak krisis moneter Asia 1997, krisis LTCM (Long Term Capital Management), krismon Russia, sampai krisis bursa Teknologi “DOTCOM” US, likuiditas membanjir. Selama dua tahun terakhir ini terjadi percepatan laju kenaikkan rupiah yang beredar yang cukup mencemaskan, antara 14% -20%. Soal cetak mencetak uang, bukan monopoli Indonesia saja, tetapi juga negara lain. Tahun lalu Uni Eropa 8.5%, US 10%, Cina 19%, India 18%, Afrika Selatan 23% dan Russia 45%[1]. Namun apa yang terjadi saat ini? Justru penggelontoran inilah yang menyebabkan peningkatan inflasi. M2 meningkat berarti orang beramai-ramai meletakkan uangnya kedalam bank dan demand deposit, yang merupakan tempat meletakkan uang paling aman diatas bumi ini menurut mereka. Lho, kok bisa hal ini menyebabkan inflasi? Darimana? How come?

Penggelontoran uang yang terjadi saat ini mengalir ke dalam sektor lain yang tidak berhasil saya dapatkan data pertumbuhannya di Indonesia, yakni M3. Saya sangat yakin, haqqul yakin, bahwa uang yang beredar dalam masyarakat, baik pribadi maupun institusi tempat kita menyimpan uang, dengan segera berselancar kedalam pasar uang. Pemerintah US saja saat ini (mulai tahun 2006) tidak berani menampilkan data mengenai pertumbuhan sektor ekonomi di M3. Mengapa? Karena akan menunjukkan dengan segera, betapa pertumbuhan uang tidak berjalan di sektor riil, dalam artian menggerakkan sektor produksi, melainkan berada dalam pasar uang. Menurut anda, dari mana pemerintah bisa membayar bunga tabungan dan deposito kita? Dari pinjaman masyarakat kedalam sektor riil kah? Hohoho. Hampir 80% dana-dana tabungan yang mengalir kedalam bank berwujud segregated account of institusion di pasar modal. Uang bertumbuh tak terkendali.

Grafik 2. Pertumbuhan M3 di US dalam milyar USD (www.nowandfutures.com)

Sektor privat dan institusi seakan berlomba-lomba “menciptakan uang”. Di Indonesia pun, seandainya negara kita mau jujur pada diri sendiri, akan melihat betapa sesungguhnya sektor moneter yang berwujud pasar uang benar-benar membuat uang sebagai alat tukar telah menjadi komoditi yang akhirnya berdampak besar pada perekonomian kita, yakni menggelembung perlahan untuk kemudian meletus. Harga-harga merangkak naik, karena tidak diiringi peningkatan sektor produksi. Sementara uang terus menerus tercetak dan mengalir ke pasar-pasar non riil.

Kalau sudah seperti ini, maka tanpa disadari, sekali lagi, kita menciptakan arus inisial pertanda bahwa akan terjadi sebuah inflasi yang mahadahsyat. Bayangkan, uang yang kita miliki dalam zaman krisis seperti ini kita letakkan kedalam bank berupa tabungan dan deposito. Bank meletakkan uangnya kedalam pasar uang dan stock market. Lalu, dimana yang menggerakkan sektor perekonomian rakyat? Pantas saja demikian melambungnya harga-harga. Arus inilah yang perlahan akan uniform menuju hyperinflation. Likuiditas pun akhirnya bermakna semu. Haha.

Benar bahwa kita dilarang menimbun uang. Benar bahwa kita dilarang menimbun komoditi pokok.

Grafik 3. Peningkatan harga jagung

Grafik 4. Peningkatan harga beras

Yang menabung buntung, yang menghutang untung.
Jika begini gambarannya, kapan kita sejahtera?


Lir iliir..
Lir iliir..
Tandure wus sumilir..
Tak ijo royo-royo..
Tak sengguh temanten anyar..

Cah angon..
Cah angon..
Penekno belimbing kuwi..
Lunyu-lunyu yo peneken..
Kanggo sebo mengko sore..

Mumpung padhang rembulane
Mumpung jembar kalangane
yo surako surak iyo….





Zero Inflation (2)

4 08 2009

Pernahkah anda berpikir, bagaimana pemerintah menarik pajak dari tukang becak, peminta-minta, atau pemulung sampah?

Pernahkah anda mengamati bagaimana terstrukturnya kreditur siluman dalam menarik pajak mereka yang berada at the bottom of the pyramid?

Pernahkah?

===

Inflasi sebagai Instrumen Penarik Pajak yang Canggih

Menurut saya, fiktif/mitos jika kita mengatakan bahwa Inflasi adalah  kenaikan harga barang-barang. Inflasi perdefinisi (masih menurut saya) laju pertumbuhan uang dalam suatu sistem ekonomi. Atau dengan kata-kata yang lebih elegan, menurut imam Semar dalam sebuah jurnal ekonomi di tahun 2008, Inflasi adalah akibat yang timbul karena pemerintah tidak mampu menarik pajak dari rakyatnya saja. How Come?

Ya, berdasarkan apa yang saya pahami, Inflasi lebih merupakan sebuah “alat” penarik pajak yang canggih dan tidak membutuhkan infrastruktur njelimet. Anda bisa bayangkan dalam sebuah ilustrasi sederhana berikut.

Seorang tukang bakso yang bekerja dalam 1 hari pada tahun 95-an akan mendapatkan omzet sebesar Rp 500 x 30 mangkok = Rp 15.000,00. Nah, catat, uang tersebut kita asumsikan ditabung oleh tukang bakso yang rajin tersebut sebanyak Rp 10.000,00 dengan harapan sebagai biaya masa depan anaknya.

“..abang tukang bakso, mari dong kemari, saya mau beli

satu mangkok saja 500 perak yang banyak baksonya..”

Sekarang, di tahun ini, berapa harga semangkok bakso? Masa depan anak si tukang bakso tersebut perlahan pudar. Jika tukang bakso tersebut menabung selama 1 tahun dengan nominal tabungan Rp 10.000 per hari (2/3 dari keringatnya), maka dia hanya akan memperoleh Rp 3.650.000,00 dalam setahun. Atau jika dikonversi, uang tersebut adalah biaya hidup pas-pasan si tukang bakso tersebut dengan istri dan anaknya selama 1 bulan. Daya hidup 1 tahun dikompres menjadi hanya 1 bulan. Dengan penurunan nilai keringat seorang tukang bakso mencapai minus 900% dalam kurun waktu 10 tahun.

Cumulative_Inflation_by_Decade

Jika kita komparasi dengan data inflasi kumulatif dunia pada grafik diatas, kita bisa bandingkan, bahwa inflasi dunia “hanya” pada kisaran 400%. Ya, mungkin di luar negeri tidak ada pungutan liar, parkir-parkir, preman, dan lain sebagainya yang ikut membuat harga di Indonesia lebih mahal ketimbang negara lain.

Apa tanggapan pemerintah? Pemerintah menghimbau kepada para pelaku pasar agar tidak melakukan penimbunan yang menyebabkan harga-harga naik. Pemerintah menuntut kepada mereka agar tidak memanipulasi harga-harga di pasar yang menyebabkan masyarakat tidak mampu membeli bahan pokok. Damn. Yang benar adalah, pemerintah menginginkan kambing hitam, yakni pelaku pasar, dalam rangka menutupi aibnya dalam penggelontoran uang-uang kertas yang mengambang. Sepakat? Smart. Harus selalu ada kambing hitam dalam setiap langkah-langkah cerdik. Isu-isu perekonomian rakyat menjadi populis dan bisa menggiring pemerintah untuk kembali berkuasa, tanpa masyarakat tahu, siapa dalang dibalik kenaikan harga-harga (baca: zero inflation (1)).

Inflasi ini sangat erat kaitannya dengan penggunaan mata uang kertas di dunia. Coba anda saksikan pada tabel tersebut diatas, amati, pada tahun berapa gradien inflasi kumulatif mengalami titik ekstrem. Saya bantu saja. Pada tahun 1970. Ada peristiwa apa di tahun tersebut? AS meninggalkan standar emasnya. Mengapa? Nanti akan saya ceritakan pada Zero Inflation 3. Jadi? Siapa yang mengatakan standar emas dan uang fiat tidak banyak berpengaruh terhadap perekonomian?

Melindungi Kekayaan Kita dari Inflasi

Memang banyak perdebatan dalam pemilihan mata uang sebagai sarana transaksi. Tapi saya lebih memilih untuk menggunakan emas, dengan pertimbangan maslahatnya jauh lebih banyak. Apa saja?

1. Emas bukan sarana lindung inflasi yang ekselen, tapi setidaknya emas mampu sedikit menahan laju inflasi, paling parah 2% per tahun. Paling baik 2% per 1400 tahun.
2. Emas merupakan sarana lindung krisis yang terbaik. Emas pernah mengalami “violence” dari penguasa pada tahun 1980-an dengan memonopoli kepemilikan emas dari rakyat menjadi ke pemerintah (US). Tapi tidak lama, harga tersebut kembali stabil karena memang nilai tradisional yang kental dari emas dan masih memiliki kepercayaan terhadap profile tersebut sampai hari ini. Dalam waktu yang sangat lama, pemerintah US berusaha “membunuh” emas sebagai sarana investasi dengan mengeluarkan instrumen-instrumen lain seperti bonds, i-bonds, portofolio, dll sehingga cukup banyak masyarakat yang percaya bahwa emas telah mati. Tapi siapa sangka, pada 4 tahun yang lalu, China mengeluarkan kebijakan kepemilikan emas sebagai sarana investasi dan menyimpan seluruh cadangan kekayaannya hingga hari ini dalam bentuk komoditi dengan emas sebagai leadernya. Larry Edelson, Editor of Real Wealth, menyatakan, “In its three short years of existence, it [the Shanghai Gold Exchange] has become the world’s largest trading exchange for gold bullion, with its volume of trading surging well ahead of London, New York, and Hong Kong.”

Sedikit pembahasan tentang China. Anda bisa membayangkan, harga emas yang dahulu tidak berkembang pada 4 tahun yang lalu hari ini menjadi melonjak luar biasa dalam hanya 4 tahun, menggambarkan betapa sebuah kekuatan investasi yang dikekang oleh komunitas/kekuatan pemerintah tidak akan mampu menampung demand kepercayaan dari masyarakat. Hal ini menjadi semakin sulit bagi pemerintah US untuk mampu mengatur harga emas dan membuatnya tetap dibawah.

Selain penggunaan emas sebagai sarana investasi yang diizinkan di China (Kebijakan ETF; bahwa pemerintah China mendirikan lembaga penukaran uang (Exchange Traded Fund) agar semua warga China bisa memiliki emas dalam pecahan harga yang murah) , saat ini perekonomian China menyimpan cadangan kekayaannya dalam banyak komoditi seperti Titanium, Oil, dll. Berbeda dengan US yang merampok perekonomian warganya dengan membeli emas dengan harga murah, kemudian mengeset harga tersebut dengan harga yang lebih tinggi yang secara otomatis meningkatkan kekayaan US dalam sekejap (ketika standar emas masih berlaku di US).

Pada akhirnya saya mau bertanya,

Apakah anda masih memilih menyandarkan mata uang pada sandaran mengambang? Sederhana saja, mengapa anda membeli emas? Anda khawatir dengan harga rupiah anda? Anda membutuhkan penjaminan?

Lebih sederhana lagi, jika kita mengetahui bahwa harga emas memiliki keteraturan dan sarana penyimpanan nilai yang tangguh, mengapa kita masih menggunakan uang kertas? Karena “percaya” itu tidak mudah dibentuk. Dan Emas sudah menciptakannya.

(To be continued: Zero Inflation 3 : sekilas Likuiditas dan Sejarah US meninggalkan mata uang emas)






Zero Inflation (1)

1 08 2009

Kali ini saya ingin sedikit membahas tentang fenomena mata uang kertas dalam perspektif komoditi emas. Mengapa ini penting untuk kita ketahui? Karena dari sini kita bisa memprediksikan sebuah fenomena masa mendatang yang pernah dijelaskan oleh seorang futurolog eropa, john naisbitt, dalam bukunya “The World Is Flat” yang booming beberapa tahun silam.

Ada sebuah formula yang dipresentasikan oleh para ahli moneter dunia, yakni Equation Exchange Formula. Formula ini menjelaskan kepada kita tentang hubungan antara jumlah uang yang beredar dengan PDB/GNB. Berikut formula tersebut:

M x V = P x Q

M = Jumlah uang yang beredar dalam satuan waktu tertentu
V = Kecepatan perputaran uang rata-rata atau berapa kali rata-rata setiap uang berpindah tangan dalam 1 tahun
P x Q = Nilai pembelanjaan uang dalam suatu negara
P = Tingkat harga yang berlaku dalam suatu negara pada tahun tersebut
Q = Tingkat output riil dari barang dan jasa

Secara logika matematika sederhana, dalam persamaan linier diatas kita tahu bahwa jika sisi kiri naik, maka sisi kanan akan ikut naik pula. Nah, mari kita cermati sedikit persamaan diatas. Dalam konsep ilmu ekonomi moneter dewasa ini, jumlah uang yang beredar dalam dunia tidak lagi disandarkan pada suatu hard currency yang riil. Apa artinya? Artinya adalah, jumlah uang dalam dunia ini tidak memiliki limit, alias dapat dicetak sewaktu-waktu berdasarkan kebutuhan dan proses inflasi yang “alamiah” terjadi saat ini.
Jika M tidak disandarkan, maka bisa kita asumsikan, saat ini jumlah M kita terus meningkat.

Kemudian V. Kita sama-sama mengerti bahwa saat ini terdapat sedikitnya 3 jenis pasar besar dalam 2 golongan perputaran uang di dunia, yakni Futures, Securities, dan Real. Futures memperdagangkan komoditi foreign exchange, stock index, dan commodities, Securities memperdagangkan saham, dan pasar real yang mungkin sering kita jumpai, yakni pasar-pasar nyata di pinggir jalan atau mall-mall. Tiga jenis ini digolongkan dalam perekonomian sektor riil dan non-riil. non-riil yakni pasar futures, securities, options, dll, sedang sektor riil yakni pasar yang sering kita jumpai tersebut. Cepat mana perputaran uang diantara kedua pasar tersebut? Jelas. Cepat sektor non riil. Hampir 80% uang dunia berputar dalam sektor tersebut. Salah satu penyebab perputaran uang yang demikian tinggi adalah karena uang tidak mengalir dalam sebuah kegiatan ekonomi produksi. Kita asumsikan, V juga tinggi.

Nah, jika M dan V tinggi, artinya sisi kanan harus tinggi juga, dong. P x Q harus ikut tinggi. Apakah Q tinggi seiring dengan V yang tinggi? Tidak. Malah mungkin tidak korelatif lagi V dengan Q saat ini karena adanya pasar moneter yang tidak terkendali seperti saat ini. Kita asumsikan Q tetap. Jadi P? Akan menjadi sangat tinggi. Jika anda melihat angka IHSG, Han Seng, Kospi, dll yang ada di ticker pasar modal, setidaknya hal ini menjadi salah satu penyebab harga-harga menjadi tinggi. Namun tidak serta merta pasar moneter tersebut yang salah, karena angka-angka dalam pasar tersebut juga menunjukkan stabilitas industri yang ada di negara tersebut. Jadi apa yang salah?

Yang paling bersalah adalah mata uang yang mengambang. Dosa besar kemanusiaan yang dimiliki oleh ekonom-ekonom kapitalis adalah menggeser mata uang emas dan perak yang sudah berabad-abad lamanya digunakan sebagai mata uang yang berlaku di seluruh dunia dengan lembaran-lembaran kertas atau fiat money. Harga-harga melambung tinggi tanpa sandaran. Semula uang yang berfungsi sebagai aliran kekayaan, kini menjadi sebuah komoditi yang menunjukkan kerakusan dan kebanggaan seseorang.

Mari kita simulasikan sekali lagi formula diatas dengan kondisi JIKA mata uang dunia disandarkan pada emas.

M = Tetap. Karena Allah tidak lagi menciptakan emas di muka bumi ini. Pertumbuhan jumlahnya tak sampai 2% per tahun dari yang ada saat ini. Ditambah lagi negara Afrika Selatan sebagai penghasil emas no.1 di dunia yang sedang mengalami krisis, diperkirakan jumlah emas tidak akan meningkat drastis dalam beberapa tahun mendatang. Jumlah emas yang diperkirakan ada saat ini hanyalah 125 ribu MT di dalam perut bumi. Mencetak uang emas dibutuhkan produksi pula,

V = akan tetap tinggi, namun terkendali. Mengapa? Karena perdagangan yang terjadi hanya akan terjadi sebatas stok emas yang ada dalam pasar tersebut. Tak bisa menjadi Giga growth melebihi cadangan emas, seperti yang terjadi saat ini.

Q = karena sektor riil selalu mengimbangi jumlah uang yang ada, jika V meningkat, pasti Q juga tinggi, linier dengan arus putaran uang.

Akibatnya, P menjadi stabil. Harga-harga barang tidak terlalu meningkat pesat, tidak turun drastis. Paling-paling naik karena stok di pasar sedang turun, dan turun karena stok berlebih.

Dalam logika yang lain, P pasti akan selalu kita jaga agar tidak naik dan turun dengan drastis. Maka yang harus kita lakukan adalah, meningkatkan V dengan jalan menyuburkan sedekah, membayar zakat, dan menggerakkan sektor riil dengan pinjaman/investasi syariah.

Dan kita dulu sudah pernah memakainya. Dinar dan Dirham, mata uang yang tidak pernah terkena inflasi sedikitpun. Mau fakta?

“Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata, “Saya mendengar penduduk bercerita tentang ‘Urwah, bahwa Nabi Muhammad SAW memberikan uang 1 dinar kepadanya untuk dibelikan seekor kambing untuk beliau. Lau dengan uang tersebut ia membeli 2 ekor kambing, kemudian ia jual 1 ekor dengan harga 1 dinar. Ia pulang membawa 1 dinar dan 1 ekor kambing. Nabi SAW mendoakannya denan keberkatan jual belinya. Seandainya ‘Urwah membeli debu pun, ia pasti beruntung.” (HR Bukhari)

Harga 1 kambing zaman Nabi (14 abad yang lalu) = 1 dinar
Harga dinar saat ini = 1,2 jt

Harga kambing saat ini = +/- 1,2 Jt
Artinya, kambing saat ini harganya SAMA dengan kambing jaman dulu.

Dinar = zero inflation.