Semua kisah diatas memiliki benang merah yang sama, bahwa terjadi usaha untuk mengurangi nilai intrinsik dari mata uang beredar, entah dengan berupa mengurangi kadar emas (ya, kan? Berkurang jumlah uang dalam nilai intrinsiknya) atau dengan menggelontorkan uang secara edan-edanan (Perancis saat dulu dan Zimbabwe saat ini). What the hell of it?
Mitos yang masih dipercaya oleh masyarakat ekonomi saat ini – terutama ekonom klasik – adalah dengan penggelontoran uang alias likuiditas, akan menaikkan perekonomian suatu negara (Telaah kembali easy money policy, Kebijakan Uang Longgar). Penggelontoran uang – yang menjadi monopoli suatu negara – akan mendorong masyarakat ekonomi yang sedang lesu agar kembali bergairah dalam sektor produksi, artinya transaksi akan berlipat seiring dengan berlipatnya jumlah uang. Benarkah?
- M0, yaitu definisi suplai uang secara sempit. M0 hanya terdiri dari uang kartal, yaitu uang kertas dan logam yang kita pegang sehari-hari.
- M1, yaitu M0 ditambah dengan demand deposit (dd). Dd adalah tabungan yang kita miliki di bank, yang dapat dicairkan sewaktu-waktu apabila dibutuhkan. M1 ini merupakan perhitungan jumlah uang yang beredar yang sangat likuid.
- M2, yaitu M1 ditambah dengan time deposit (td). Td adalah tabungan, deposito, dan sejenisnya, yang memiliki waktu jatuh tempo atau tidak dapat dicairkan sewaktu-waktu dibutuhkan.
- M3, yaitu M2 ditambah dengan deposito jangka panjang, Ini meliputi dana-dana institusional yang ada dipasar uang.
Ada apa gerangan kaitannya dengan likuiditas? Apa artinya kenaikan M2 diatas?
Baik jika memang analisis matematis tentang penggelontoran uang akan meningkatkan perekonomian (menambah transaksi). Sejak krisis moneter Asia 1997, krisis LTCM (Long Term Capital Management), krismon Russia, sampai krisis bursa Teknologi “DOTCOM” US, likuiditas membanjir. Selama dua tahun terakhir ini terjadi percepatan laju kenaikkan rupiah yang beredar yang cukup mencemaskan, antara 14% -20%. Soal cetak mencetak uang, bukan monopoli Indonesia saja, tetapi juga negara lain. Tahun lalu Uni Eropa 8.5%, US 10%, Cina 19%, India 18%, Afrika Selatan 23% dan Russia 45%[1]. Namun apa yang terjadi saat ini? Justru penggelontoran inilah yang menyebabkan peningkatan inflasi. M2 meningkat berarti orang beramai-ramai meletakkan uangnya kedalam bank dan demand deposit, yang merupakan tempat meletakkan uang paling aman diatas bumi ini menurut mereka. Lho, kok bisa hal ini menyebabkan inflasi? Darimana? How come?
Penggelontoran uang yang terjadi saat ini mengalir ke dalam sektor lain yang tidak berhasil saya dapatkan data pertumbuhannya di Indonesia, yakni M3. Saya sangat yakin, haqqul yakin, bahwa uang yang beredar dalam masyarakat, baik pribadi maupun institusi tempat kita menyimpan uang, dengan segera berselancar kedalam pasar uang. Pemerintah US saja saat ini (mulai tahun 2006) tidak berani menampilkan data mengenai pertumbuhan sektor ekonomi di M3. Mengapa? Karena akan menunjukkan dengan segera, betapa pertumbuhan uang tidak berjalan di sektor riil, dalam artian menggerakkan sektor produksi, melainkan berada dalam pasar uang. Menurut anda, dari mana pemerintah bisa membayar bunga tabungan dan deposito kita? Dari pinjaman masyarakat kedalam sektor riil kah? Hohoho. Hampir 80% dana-dana tabungan yang mengalir kedalam bank berwujud segregated account of institusion di pasar modal. Uang bertumbuh tak terkendali.
Sektor privat dan institusi seakan berlomba-lomba “menciptakan uang”. Di Indonesia pun, seandainya negara kita mau jujur pada diri sendiri, akan melihat betapa sesungguhnya sektor moneter yang berwujud pasar uang benar-benar membuat uang sebagai alat tukar telah menjadi komoditi yang akhirnya berdampak besar pada perekonomian kita, yakni menggelembung perlahan untuk kemudian meletus. Harga-harga merangkak naik, karena tidak diiringi peningkatan sektor produksi. Sementara uang terus menerus tercetak dan mengalir ke pasar-pasar non riil.
Kalau sudah seperti ini, maka tanpa disadari, sekali lagi, kita menciptakan arus inisial pertanda bahwa akan terjadi sebuah inflasi yang mahadahsyat. Bayangkan, uang yang kita miliki dalam zaman krisis seperti ini kita letakkan kedalam bank berupa tabungan dan deposito. Bank meletakkan uangnya kedalam pasar uang dan stock market. Lalu, dimana yang menggerakkan sektor perekonomian rakyat? Pantas saja demikian melambungnya harga-harga. Arus inilah yang perlahan akan uniform menuju hyperinflation. Likuiditas pun akhirnya bermakna semu. Haha.
Benar bahwa kita dilarang menimbun uang. Benar bahwa kita dilarang menimbun komoditi pokok.
Grafik 4. Peningkatan harga beras
Yang menabung buntung, yang menghutang untung.
Jika begini gambarannya, kapan kita sejahtera?
Lir iliir..
Lir iliir..
Tandure wus sumilir..
Tak ijo royo-royo..
Tak sengguh temanten anyar..
Cah angon..
Cah angon..
Penekno belimbing kuwi..
Lunyu-lunyu yo peneken..
Kanggo sebo mengko sore..
Mumpung padhang rembulane
Mumpung jembar kalangane
yo surako surak iyo….





Komentar