takdirku

12 09 2009

Menjejak langkah di bumi, menyadari bahwa alam ini berjalan dengan Af’al Sang Maha

Menghirup udara ini, menyadari bahwa semesta dicipta hanya untuk dimengerti

Oh Allah, Engkau selalu tampak meski ku menyumputkan tubuhku dibalik semak

Engkau selalu niscaya di setiap episode kehidupanku

Aku tak mengerti, satu yang kutahu adalah Engkau Maha Sibuk

Rabbii, Al Khaliq..

Engkau menjadikan ada setiap yang tiada

Duhai, Al Barii’…

Engkau mewujudkan setiap rencana

Yaa Mushawwiir..

Tiada yang seindah dari polesan-Mu..

Tiada ku mengerti takdirku selain untuk membersamai-Mu

Dalam heningku

Dalam ramaiku

Dalam cinta tak berbatas dunia





Dzikrullah

9 09 2009

sujud

Pada tatanan spiritualitas Islam, dzikrullah merupakan kunci membuka hijab dari kegelapan menuju cahya Ilahi. Alqur’an menempatkan dzikrullah sebagai pintu pengetahuan makrifatullah, sebagaimana tercantum dalam surat Ali Imran 190-191 :

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, atau sambil duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS 3:190-191)

Kalimat “yadzkurunallah” orang-orang yang mengingat Allah, didalam `tata bahasa arab’  berkedudukan sebagai ma’thuf (tempat bersandar) bagi kalimat-kalimat sesudahnya, sehingga dzikrullah merupakan dasar atau azas dari semua perbuatan peribadatan baik berdiri, duduk dan berbaring serta merenung (kontemplasi). Dengan demikian praktek dzikir termasuk ibadah yang bebas tidak ada batasannya. Bisa sambil berdiri, duduk, berbaring, atau bahkan mencari nafkah untuk keluarga sekalipun bisa dikatakan berdzikir, jika dilandasi karena ingat kepada Allah. Juga termasuk kaum intelektual yang sedang meriset fenomena alam, sehingga menemukan sesuatu yang bermanfaat bagi seluruh manusia.

Dzikrullah merupakan sarana pembangkitan kesadaran diri yang tenggelam, oleh sebab itu dzikir lebih komprehensif dan umum dari berpikir. Karena dzikir melahirkan pikir serta kecerdasan jiwa yang luas, maka dzikrullah tidak bisa hanya diartikan dengan menyebut nama Allah, akan tetapi dzikrullah merupakan sikap mental spiritual mematuhkan dan memasrahkan kepada Allah Swt.

Dari Darda Ra : “Bersabda Rasulullah Saw: Maukah kalian saya beritakan sesuatu yang lebih baik dari amal-amal kalian, lebih suci dihadapan penguasa kalian, lebih luhur di dalam derajat kalian, lebih bagus bagi kalian dari pada menafkahkan emas dan perak, dan lebih bagus dari pada bertemu musuh kalian (berperang) kemudian kalian menebas leher-leher mereka atau merekapun menebas leher-leher kalian?” Mereka berkata, “baik ya Rasulullah”. Beliau bersabda, “dzikrullah” atau ingat kepada Allah

(dikeluarkan oleh At thurmudzy dan Ibnu Majah, dan berkata Al Hakim: shahih isnadnya).

Betapa dzikrullah ditempatkan pada posisi yang sangat tinggi, karena merupakan jiwa atau rohnya seluruh peribadatan, baik shalat, haji, zakat, jihad dan amalan-amalan lainnya. Dari sisi lain, Allah sangat keras mengancam orang yang tidak ingat kepada Allah didalam ibadahnya. Seperti dalam surat Al Ma’un ayat :4-6 :

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya”. (QS : Al Maun : 4-6)

“Fashalli lirabbika … maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu” ( QS. 108:2 )

Perbuatan riya’ ialah melakukan suatu amal perbuatan tidak untuk mencari keridhaan Allah, akan tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat. Amal perbuatan seperti itu yang akan ditolak oleh Allah, dan dikategorikan bukan sebagai perbuatan Agama (Ad dien).

Banyak orang yang mendirikan shalat, sementara ia hanya mendapatkan rasa lelah dan payah ( Al Hadist )

Sabda Nabi Saw :

“Akan datang pada suatu masa, orang yang mengerjakan shalat, tetapi mereka belum merasakan shalat” (HR. Ahmad, dalam risalahnya: Ash shalatu wa ma yalzamuha)

Jadi jelaslah maksud hadist-hadist di atas bahwa seluruh peribadatan bertujuan untuk memasrahkan diri dan rela kepada Allah, sebagaimana pasrahnya alam semesta.

Untuk mencapai kepada tingkatan yang ikhlas kepada Allah serta menerima Allah sebagai junjungan dan pujaan, jalan atau sarana yang paling mudah telah diberikan Allah, yaitu dzikrullah. Keikhlasan kepada Allah mustahil bisa dicapai, tanpa melatih dengan menyebut nama Allah serta melakukan amalan-amalan yang telah ditetapkan-Nya.

Telah menyebutkan Abdullah bin Yusr, bahwa sesungguhnya ada seorang lelaki berkata, “wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat iman itu sungguh amat banyak bagiku, maka kabarkanlah kepadaku dengan sesuatu yang aku akan menetapinya. Beliau bersabda , ”Senantiasa lisanmu basah dari dzikir (ingat) kepada Allah Ta’ala.”

Keluhan laki-laki yang datang kepada Rasulullah ini menjadi pelajaran dan renungan bagi kita, bahwa ternyata syariat iman itu amat banyak jumlahnya dan tidaklah mungkin kita mampu melaksanakan amalan syariat yang begitu banyak tersebut, kecuali mendapatkan karunia bimbingan dan tuntunan dari Allah Subhanahu Wa Taala. Rasulullah telah memberikan solusinya dengan memerintahkan selalu membasahi lisan kita dengan menyebut nama Allah.

Dengan cara melatih berdzikir kepada Allah kita akan mendapatkan ketenangan, kekhusyu’an dan kesabaran yang berasal dari Nur Ilahi.

[Berguru Kepada Allah: 162-164]





Zero Gravity

3 09 2009

4 September 2009

03.00 – 04.30

“Ya Allah.. Bimbing aku.. Dekap aku.. Rahmati aku..”

Aku hening.

Hanya detak jam dinding yang terdengar secara gradual menjadi semakin keras.

“Rabbana wa lakal hamd..”

Tiba-tiba kedua kakiku seakan melemas. Sontak tubuhku terhempas ke tanah dalam sujudku. Bukan. Tubuhku terlempar lebih tepatnya.

“Ya.. Rabb…”

Badanku menggigil dahsyat. Luar biasa bergetar. Aku takut. Punggungku mulai berkeringat.

“Ya Allah, kenapa badanku.. Allah.. Allah.. Ahad..”

Badanku masih bervibrasi dalam hitungan menit. Nafasku memburu. Aku demikian takutnya, sampai kucengkram erat sajadahku. Tubuhku seakan ingin terhempas-hempas, terlempar dari bumi.

“Allahu.. Allahu…”

Getaran itu mulai melemah. Lembut. Tubuhku berganti sejuk menyelarasi nafasku yang kembali pelan.

Sujudku masih hening.

Dan rasa itu masih menyisa.

Yaa Ayyatuhannafsul muthmainnah. Irji’i ila rabbiki raadhiyatammardhiyyah. Fadkhuli fii ibadi, wadkhuli jannaati..”

“Innafii khalqissamaawati wal ardh, wakhtilaafillayli wannahaar. la aayatil liulil albab. Alladzina yadzkuruunallaha qiyamaw waqu’udaw wa’alaa junubihim, wayatafakkaruna fii khalqissamaawati wal ardh. Rabbana, maa khalaqta hadza bathila subhanaka faqina ‘adza bannar..”





Zero Density

3 09 2009

3 september 2009

02.30 – 04.00

Ditengah pencarianku. Aku bersimpuh dihadapan Allah yang Maha Membimbing. Aku menegakkan punggungku, berdiri menuju Dia. Lama aku menyusuri rakaat demi rakaat. Merasai tarikan nafas demi nafas. Memburu momen-momen pengajaran dari-Nya. Di akhir pengembaraanku, ku bertanya pada diriku dan Allah, “Mana Allahku Yang Maha Membimbing? Aku terperangkap dalam sebuah kesendirian, seolah tak nampak Dia yang membimbingku..”

“Ya Allah.. Ajari aku.. Bimbing aku..”

Aku menangis dan memburu-Nya. Seperti seorang anak kecil yang kehilangan ibunya, aku berlari-lari mengelilingi belantara semesta.

“Ya Allah.. Ajari aku mengenal dan mendekat pada-Mu.. Bimbing aku ya Allah Sang Maha Murabbi..”

Aku hening. Aku menunggu sebuah pengajaran dari-Nya.

Aku menunggu.

Menunggu dan hening.

Aku sudah berazzam, Allah pasti membimbingku.

Tak lama, mataku mengantuk. Tiba-tiba sebuah kesadaran berpisah dari jasad. Aku merasakan sebuah perasaan yang sangat ringan dan tak bermassa. Bagai sebuah entitas dengan massa jenis 0. Sangat ringan.

Jasadku tertidur. Tetapi aku melayang.

“Ya Allah.. inikah pengajaran-Mu?”

Aku mengembara. Membiasa sebuah aku dengan perasaan baru. Menyaksikan jasadku sendiri terlelap tertidur.

“Ya Allah.. Allah..”

“Apa aku ini yang akan meluncur bersimpuh menuju-Mu? Apa aku yang ini Ya Allah?”

Perlahan aku seperti kembali menuju jasadku. Entah dengan sebuah cara seperti apa, mataku kembali membuka. Sebuah kesadaran kembali dan menyatu dengan diri. Aku masih tertegun dengan apa yang telah terjadi. Aku berlari menuju keyboardku. Dan inilah aku.