Where Will You Go? (5th)

17 11 2008

Banyak yang mau berubah,
tapi memilih jalan mundur.

Andakah orangnya?

Berikut cuplikan cerita dari Ust. Yusuf Mansur. Semoga bermanfaat buat anda. Wajib baca pelan-pelan, jangan di scanning, kalau mau dapat hikmahnya. Selamat membaca!

yusuf_mansyur_002Satu hari saya jalan melintas di satu daerah.. Tetidur di dalam mobil. Saat terbangun, ada tanda pom bensin sebentar lagi. Saya pesen ke supir saya,
“Nanti di depan ke kiri ya”.
“Masih banyak, Pak Ustadz”.
Saya paham. Supir saya mengira saya pengen beli bensin. Padahal bukan. Saya pengen pipis.
Begitu berhenti dan keluar dari mobil, ada seorang sekuriti.

“PakUstadz!”

Dari jauh ia melambai dan mendekati saya. Saya menghentikan langkah. Menunggu beliau.

“Pak Ustadz, alhamdulillah nih bisa ketemu Pak Ustadz. Biasanya kan hanya melihat di TV saja…”.

Saya senyum aja. Ga ke-geeran, insya Allah, he he he.

“Saya ke toilet dulu ya”.
“Nanti saya pengen ngobrol boleh Ustadz?”
“Saya buru-buru loh. Tentang apaan sih?”
“Saya bosen jadi satpam Pak Ustadz”
Read the rest of this entry »





Where Will You Go? (4th)

12 11 2008

poor-indian-childBerbicara tentang masa depan, saya jadi merasa mesti harus mengintrospeksi diri. Kenyataannya, kemampuan manusia dalam membangun mimpi tidak lebih kuat daripada dorongan ketika bertemu dengan realita yang sangat jamak dalam menggagalkan mimpi tersebut, yakni kebiasaan menunda. Dan mungkin, kemampuan untuk menunda tersebut, bisa jadi, merupakan sebuah bentuk perasaan takut dari lubuk hati yang terdalam kita terhadap 1 kata: kemiskinan. Miskin dalam segala hal: finansial, iman, persahabatan, dll.

Sadarkah kita, ketika kita menunda suatu pekerjaan, maka sebenarnya saat itu kita juga tengah mengalami perasaan berikut sebagai ekspresi dari ketakutan terhadap kemiskinan tadi:

  1. Overwaspada
  2. Kecemasan
  3. Ketidakpedulian (umumnya diekspresikan dalam bentuk tidak memiliki ambisi, malas secara mental dan fisik, menerima kompensasi apapun yang diberikan tanpa protes, menoleransi kemiskinan)
  4. Tidak/lambat mengambil keputusan (kebiasaan membiarkan orang lain berpikir untuk dirinya)
  5. Keraguan (umumnya diekspresikan dengan alibi/alasan yang disiapkan untuk menutup-nutupi kegagalan. Sering juga terekspresi dalam bentuk rasa iri atas keberhasilan seseorang atau mengkritik mereka)

Read the rest of this entry »





Where Will You Go? (3rd)

11 11 2008

Setelah kita memiliki berbagai macam mimpi besar dan indah, tinggal satu persoalan besar dan terberat, yaitu mewujudkannya. Sebelum membaca artikel pada post selanjutnya, sepertinya kamu perlu mengisi polling dibawah ini terlebih dahulu.





Where Will You Go? (2nd)

2 11 2008

Ok. Cukup merenungnya yang hampir 1 bulan (alasan.. padahal lagi males aja.. hehe..).

baidewey, postingan saya dibawah, jujur saja, tidak bermaksud ingin mempropaganda kita semua dengan virus bisnis/wirausaha. Saya hanya ingin bertanya saja sama kita, kenapa ya, jarang dari kita yang punya rencana spesifik berdasarkan tujuan spesifik. Contoh:

Ujang seorang calon sarjana teknik mesin yang akan lulus pada tahun 2010. Sebelum dia lulus, ada beberapa hal yang dia rencanakan berdasarkan visi besarnya:


Memiliki bioenergy equipment manufacturing terbesar di Indonesia dengan omzet Rp 1 T per bulan di tahun 2035.

Hal yang dia lakukan adalah: Read the rest of this entry »





where will u go? (part 1)

10 10 2008

Aku tidak tahu dan sangat ingin ingin tahu, sebenarnya apa sih yang ada dalam rencana orang-orang yang baru lulus? Kerja? Bisnis? atau apa?

mungkin ini akibat kita tidak pernah diajari ilmu berencana kehidupan. Sadar ngga, kita selalu mengikuti hal-hal yang selalu dianggap benar dan aman oleh orang-orang di sekeliling kita. Lulus kuliah itu bagus kalau lanjut kerja di oil and gas company atau melanjut S-2. Atau bekerja dengan gaji besar. Tapi setelah lulus bisnis? “Kan jalan orang kaya tidak lewat jadi pekerja”, begitu pledoinya. di sisi lain mengatakan,”ga aman. tidak jamak orang berkelakuan seperti itu”. Tapi kalau aku di posisi itu, mungkin akan berpikir sebaliknya, iya kalau bisnisnya bagus dan berjalan lancar, Kalau ga? Wah, ketinggalan kereta sama yang employee. Berarti mungkin, ada yang hilang dari pola berpikir kita. Apa?

Mari kita pikirkan bersama dulu, sampai postingan berikutnya.





napak tilas

10 10 2008

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah melainkan kepada-Nya saja. Kemudian, Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah:118)

“Ya Allahu rahman, aku khilaf..”

“sudahlah, tidak mengapa, rahmat Allah demikian luasnya. Masih ada kesempatanmu saat ini untuk bertaubat dan memohon ampunan-Nya.. Allah lebih mencintai hamba-Nya yang mendekat dengan jutaan salah dan permohonan cinta pada-Nya..”

“Tapi, untuk ikhwan seperti diriku? Sepertinya aku tak pantas berada di dalam kafilah dakwah ini.. Aku merasa sangat munafik dan berlumpur dosa. Rasa iri demikian membuncah dalam hatiku menyaksikan mereka yang berjuang dengan ikhlas dan penuh cinta pada perjuangan mereka..”

“sabar, bro.. Mohonkan ampun saja untuk dirimu dan dia. Tak mengapa. Toh, Allah Maha Melihat. Jujurkan saja pada Dia yang Maha Melihat. Tuturkan dalam kesederhanaan bahasa cintamu pada-Nya. Tak ada yang terlampau batas yang kau lakukan. Mungkin geliat persimpangan kehidupan saja yang sedikit kau abaikan. Mungkin memang sudah saatnya dirimu membutuhkan labuhan rindu pada-Nya.”

“Aku merasa ini sudah berulang dan terulang. Ya Allaah.. Nistanya diriku ini..”

“Asal jangan menjadi sebuah ritual dosa yang melipat rasa takutmu pada-Nya.. Tak mengapa.. Segera saja kau akhiri, mohonkan ampun dan khilaf. Sabar, akhi fillah. Allah selalu menguji hamba-Nya pada titik terlemah dalam dirinya.. Mudah-mudahan kau segera memetik pelajaran dari ini. Lagi.”

hening malam itu.. Simfoni kelamnya turut menambah angkuh malam yang mencengkram dada seorang lelaki muda usia di persimpangan kendali jiwa.

Allahu rabbi, laa hawla walaa quwwata illa billah..

Peringatan penulis: kisah ini adalah fiktif. Jika ada kesamaan setting, konten, dan pengalaman dengan pembaca saat ini, maka sudah saatnya kita introspeksi diri bersama..




Alhamdulillah, Undangan itu datang juga..

30 09 2008

Hari itu telah menjelang. Izinkan diri ini memohon doa dan keikhlasan dari anda semua. Allah telah memperjumpakan kita karena-Nya, dan juga memisahkan kita karena Dia.

Izinkan di hari nan fitri ini, segenap Crew Tetirah mengucapkan:

“Taqobbalallahu minna waminkum, Shiyamana washuyamakum, Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan bathin..”

Semoga kesalahan kita yang telah lampau, baik dosa vertikal maupun khilaf horizontal, selalu diampuni dan dimaafkan oleh-Nya dan kita semua, agar kita mampu memenuhi undangan surga kali ini dalam keadaan bertaqwa di senja terakhir Ramadhan ini. Akhirnya, semoga kita berjumpa kembali dengan peperangan Ramadhan berikutnya, dengan semangat yang lebih membara dan jiwa yang lebih perkasa. Amiin..





mencari sudut hati yang hilang..

25 09 2008

menjelang detik-detik akhir ramadhan ini, jutaan warna cerah menyelisip di celah imanku. Kami (aku, bang febri, bang hafidz, bang anwar, dan mahendra) bersepakat untuk iktikaf di tepi dunia, Tanjungsari, Sumedang, Jawa Barat, tepatnya di pesantren alam Ust. Habib sang master Thifan, Al Kaafur.

Ritual iktikaf yang SANGAT berbeda, kawan. Kajian yang kami dapatkan berkisar fiqh, aqidah dan dakwah, dan yang ekstrim adalah FISIK. Bayangkan, ramadhan, dimana kebanyakan orang menghabiskan waktu diatas tempat tidur setelah sahur, kami harus berjibaku menembus bukit dan tebing di alam tanjungsari. Wow! I still don’t believe it. Tapi masih belum terlalu ekstrim jika dibandingkan dengan rencana di hari terakhir Ramadhan: ke puncak gunung yang puncaknya saja belum terlihat dari pesantren Al Kaafur tersebut.

Kami santri dadakan disana, dan memang cuma kami santrinya.

Yang paling mencerahkan adalah sang Master Guru. Subhanallah, aku speechless melihat perjuangan dan kesungguhan beliau dalam dakwah. Seorang sendiri membuka lahan dakwah di daerah Tanjungsari, dari santri/mutarobbi yang semula hanya 1 orang, sekarang sudah berkembang hingga ratusan orang; sampai-sampai terpaksa harus membangun masjid sendiri.

Bertarung melawan preman-preman yang biasa bawa golok dan pedang, melawan dukun dan khurafat yang merajalela, bukan lagi hal luar biasa yang hampir tiap hari dialami oleh beliau. Sampai beliau pernah berujar,”bisa saja kalau kamu mau ikut saya jaulah (berkunjung) ke desa-desa tetangga, tapi harus menyiapkan fisik, karena bukan tidak mungkin kita diserang orang-orang yang benci dengan dakwah ini..”

REAL kawan-kawan. Perjuangan Rasulullah dulu benar-benar dinapaktilasi oleh beliau. Dicela, diancam bunuh, diserang sesepuh-sesepuh/ajengan di daerah tersebut, difitnah aliran sesat ,ahmadiyah, dsb sudah dialami beliau. Dan sekarang? Mulai dari tukang bunuh, copet, pencuri ternak, ibu-ibu, bapak-bapak petani, anak-anak kecil dan remaja, sudah berduyun-duyun mendatangi pengajian ust. Habib itu. Satu yang khas adalah, ustad SANGAT tepat waktu. Walaupun baru hanya seorang yang datang, beliau langsung memulai pengajian dan taklimnya, sampai hingga hari ini, semua masyarakat terpaksa tahu, jika ingin mengikuti pengajian beliau, ketepatan waktu merupakan faktor utama agar tidak ketinggalan jalan cerita. Oya, satu lagi beliau ahli fiqh dan thifan, lulusan Fisika ITB angkatan 1986.

Mungkin ini sosok yang sangat langka di dunia modern. Sosok teladan yang selalu mencerahkan. Membuka mata hati  kita yang sudah lama tertidur.

Sampai hari ini, sudahkah kita memiliki kekuatan diri yang sama? sudahkah kita punya kekuatan dan kebaikan, bukan kekuatan dan kejahatan seperti yang pernah disampaikan Umar bin Khattab ra dalam sebuah atsar: bahwa musibah besar terjadi di sebuah negeri apabila kekuatan di tangan orang-orang jahat dan orang-orang baiknya dalam kondisi lemah. Demikian puncak kehancuran yang terjadi pada zaman Fir’aun, di mana kekuatan-kekuatan menjelema berkolaborasi dalam satu kekuatan kejahatan. Kekuatan itu sendiri diwakili oleh tiga icon yaitu Qarun, simbol kekuatan harta. Hamman, simbol kekuatan intelektual. Serta Fir’aun sendiri yang merupakan simbol kekuatan politik dan militer yang sekaligus menghimpun itu semua.

Dunia menunggu sebuah kepribadian, dimana didalamnya berkumpul kebaikan dan kekuatan, kawan. Dan ini sudah berawal dalam sebuah butterfly effect di sudut kota kecil, Sumedang. Semoga kepribadian tangguh kita yang sudah sangat lama menghilang dari sudut hati ini, bisa segera kembali.





the calling

15 09 2008

Aku sering mengutip tagline dari film yang inspiring buatku. Oya, list-ku tentang film bertambah 1: Lions for Lambs (http://www.imdb.com/title/tt0891527/). “If you don’t STAND for something, you might FALL for anything”

Berbicara tentang “stand for something”, aku jadi teringat Barrack Obama yang “Stand For Change”. Aku juga teringat Martin Luther King, Jr. yang mengungkapkan pemikirannya dengan sangat menyejarah: “I Have A Dream”. He stands for something, his dream.

Bagaimana dengan kehidupan kita? Sudahkah kita berdiri untuk sesuatu? Stephen Covey pernah menyebutkan sesuatu yang disebut Eustress dalam bukunya yang fenomenal, The 8th habit. Sebenarnya diksi ini sudah pernah digagas oleh Richard Lazarus di tahun 1974, yang berarti stress yang positif, atau jika me-refer bahasa Stephen Covey dalam bahasa bebas adalah kegelisahan yang timbul karena kebutuhan diri untuk melakukan panggilan jiwa terdalam: bermakna bagi orang lain.

Jauh sebelum Richard Lazarus dan Stephen Covey merilis statement-statementnya, Rasulullah sudah pernah membunyikan lonceng keummatan itu di hati masyarakat makkah dan madinah. Lonceng itu bernama: dakwah; Mengajak orang lain menuju jalan yang terang dari yang semula tersesat dan terdampar dalam jurang kegelapan. Subhanallah. Nilai universal yang tidak hanya melahirkan makna di dalam hati umat muslim, tapi juga menguncup di dalam pemikiran seluruh umat manusia yang masih bisa mendengar Sang Panggilan itu, The Calling. Itulah yang mendasari setiap insan di bumi ini saling berkarya dan memberi, mengayomi dan meneladankan kebaikan, mencegah kemungkaran dan melarang kejahatan.

Tapi sekarang yang jadi pertanyaan, seberapa peka telinga hati kita mampu menerjemahkan The Calling itu dalam kehidupan? Seberapa besar? Seberapa nyata? Hanya Allah dan kita yang mampu mendeskripsikan The Calling dalam diri kita. Sebesar gunung uhud? Wallahu a’lam.





menurutmu… (2nd)

14 09 2008

Setelah edisi film, saya kembali akan meluncurkan jajak pengetahuan dan pengalaman. Edisi BUKU!! Buku yang paling berkesan buat saya:

1. Made To Stick : Chip Heath dan Dan Heath

2. The Power of Positive No : William Ury

3. Know-How : Ram Charan

4. Mindset : John Naisbitt

5. Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimun 1 dan 2 : Hasan Al Banna

6. Jalan Cinta Para Pejuang : Salim A. Fillah

7. Laskar Pelangi : Andrea Hirata

8. Sang Pemimpi : Andrea Hirata

9. Edensor : Andrea Hirata

10. Kekuatan Daya Saing Indonesia : Zuhal

11. Jangan Jadi Kuli di Negeri Sendiri : Iman Taufik

Kalo menurutmu, buku-buku apa aja yang cukup keren untuk dibaca ? Komen yax..