kadang aku sering berpikir singkat setelah baca sirah Rasulullah, gimana ya cara sahabat-sahabat Rasul itu memanajemen waktu dan kehidupan, sedang hidup mereka diliputi ratusan agenda-agenda perjuangan Islam, mulai dari Syuro, mendakwahkan Islam kepada keluarga, masyarakat, membebaskan budak-budak, berlatih perang, merawat hewan ternak, dll. Jujur saja, aku sering bertanya dalam hati tentang hal tersebut. Pasti ada sesuatu yang telah mereka lakukan, sehingga semua hal tersebut dilakukan dengan baik.
Dan, ternyata setelah aku membaca sekian artikel kontemporer, jawabannya singkat: passive income. Gimana mau menjadi yang terdepan dalam mengajak orang lain kepada Islam, mentarbiyah ummat, wong kebutuhan untuk diri sendiri belum terjamin. Masih self employee kata pak Robert Kiyosaki. Ini ternyata kuncinya. Gimana mau punya idealisme setinggi langit, kalo ternyata ujung-ujungnya kita terbentur pertanyaan,”Mau dikasih makan apa anak dan istri kita kalo kita sibuk mengerjakan aktivitas sosial (non-profit)?”
Akhirnya kita harus punya skenario besar, menjadi aktivis dakwah keummatan. Bagaimana?
1. Penghasilan Pasif dan Aset Ekonomi Pribadi
Ini menjamin diri kita memiliki waktu yang luar biasa banyak dalam bekerja untuk umat. Banyak agenda dakwah ini, bung. Tidak hanya sekedar menjadi aleg atau menjadi aktivis partai saja. Belum ada yang mengisi wilayah muamalah. Belum ada yang menyentuh hukum Indonesia. Rakyat miskin dan termiskinkan, masalah mental budaya dan pragmatisme kehidupan, masih belum tergarap. Ini baru berbicara masalah parsial di Indonesia. Belum wilayah ‘Alamiy. Saudara kita di Perancis, Inggris, Palestina, Sudan, Chechnya, Rusia, dan banyak negara lainnya masih belum memiliki kondisi yang kondusif dalam berIslam. Sebagai kader dakwah, kita mesti ready 24 jam mengurus dan mengantisipasi hal tersebut, kalau mau jadi yang paling istiqomah dan paling luar biasa kontribusi keummatannya.
2. Kekuatan individu, yang terbangun sempurna dengan amal jama’i di keluarga.
Maksudnya, amal jama’i dalam keluarga itu penting, Melawan jahatnya Syaithan tidak bisa sendiri-sendiri, mesti berjamaah. Nah, jika kita sudah memiliki partner sejati dalam menghalau amunisi-amunisi syaithan tersebut, Insya Allah, kekuatan diri lambat laun akan meningkat, semakin imun terhadap godaan Syaithan. Ini masih tesis dari saya, silakan kalau mau dikoreksi. Siapa partnernya? Ya Istri dan anak-anak kita. Makanya, khusus untuk hal ini, kita harus benar-benar cermat dan teliti. Tapi kalau alat ukurnya baik, kecermatan dan ketelitian itu bisa dicapai dalam waktu singkat kok. Silakan tanya insinyur mesin yang belajar metrologi dan statistika. Alat ukur pembandingnya adalah Rasulullah, shahabat, dan shahabiyah. Dari mana referensinya? Al Qur’an dan Hadits dong.
3. Kekuatan tawakkal
Setelah komponen ruhiyah dan rupiah ini kita penuhi, amanah dari Allah untuk kita dalam mengemban perbaikan di muka bumi ini tinggal menunggu waktu saja. Dan semua itu kita tidak mencari, tapi menyiapkan. Kita pasrahkan saja kepada Allah, mau diletakkan dimana diri kita ini. Apa jadi aleg, jadi tokoh masyarakat, aktivis kepemudaan, penyumbang dana, dll semua Allah yang bimbing. Dan poin 1 serta 2 diatas juga merupakan sebuah i’dad bagi kita dalam menunggu amanah dari Allah.
CMIIW, silakan saja kalau kita mau diskusi.
Komentar